JAKARTA – Hasil Pemilu 2024 menyimpan wawasan elektoral yang lebih dalam. Pembacaan hasil pemilu tidak cukup hanya dengan melihat peraih suara terbanyak di suatu wilayah. Data rekapitulasi memungkinkan kita untuk menakar seberapa terkonsentrasi suara sebuah partai di suatu daerah.

Analisis sebelumnya telah memetakan partai peraih suara terbanyak pada Pemilu 2024. Hasilnya menunjukkan bahwa partai pemenang nasional belum tentu unggul di banyak wilayah.

Sebagai contoh, PDI Perjuangan unggul di 11 provinsi. Padahal, partai ini berstatus sebagai peraih suara terbanyak secara nasional. Di sisi lain, Partai Golkar justru tercatat mendominasi kemenangan di 13 provinsi.

Namun, jumlah suara mentah belum menjawab soal kekuatan konsentrasi partai di daerah. Untuk menganalisisnya, pendekatan spasial Location Quotient (LQ) dapat digunakan. Metode ini lazim dipakai dalam geografi ekonomi untuk mengukur tingkat konsentrasi pada suatu wilayah.

Dalam konteks Pemilu 2024, metode LQ membandingkan proporsi suara partai di provinsi dengan proporsinya secara nasional. Nilai LQ di atas 100 menunjukkan konsentrasi suara yang lebih tinggi.

Jika nilai LQ sama dengan 100, konsentrasinya terbilang relatif sama. Sebaliknya, angka di bawah 100 menandakan konsentrasi yang lebih rendah.

Bagi pengamat politik dan partai, informasi LQ menjadi titik awal evaluasi kekuatan wilayah. Daerah dengan LQ tinggi dapat dianalisis lebih lanjut untuk membedah faktor pembentuk konsentrasi suara.

Sebaliknya, wilayah dengan LQ rendah dapat menjadi bahan evaluasi untuk memahami titik lemah partai. Metode ini menjawab di mana kekuatan relatif partai sebenarnya terkonsentrasi.

Anomali Suara di Jawa Barat

Penerapan analisis LQ ini dapat dilihat pada hasil perolehan suara di Jawa Barat. Golkar tampil sebagai partai dengan perolehan suara DPR RI terbesar di provinsi padat penduduk tersebut.

Partai beringin ini memperoleh 4,29 juta suara dan sukses mencetak nilai LQ 106,7. Artinya, Jawa Barat terbukti secara saintifik sebagai daerah dengan konsentrasi suara Golkar yang baik.

Akan tetapi, konsentrasi basis suara Golkar ternyata masih lebih rendah dibandingkan dengan PKS. PKS menempati urutan ketiga dengan perolehan 3,5 juta suara mentah. Meski demikian, performa LQ partai tersebut nyatanya jauh lebih baik dengan pencapaian 158,2.

Sebaliknya, PDI Perjuangan meraup hampir tiga juta suara dan 11 kursi dari Jawa Barat. Namun, partai ini justru hanya mencatatkan nilai LQ sebesar 67,9.

Angka di bawah 100 ini menegaskan bahwa Jawa Barat sesungguhnya bukan “kandang” bagi PDI Perjuangan, terlepas dari besarnya suara mentah mereka.

Pola anomali tak kalah menarik terlihat pada PPP, PSI, Partai Buruh, dan PBB. Keempat partai ini menempati posisi bawah dan gagal memperoleh alokasi kursi DPR RI dari Jawa Barat.

Kendati demikian, keempat partai tersebut memiliki nilai LQ di atas 100. Wilayah Jawa Barat sebenarnya merupakan basis konsentrasi suara yang sangat prospektif bagi mereka.

Kesimpulannya, meraup banyak suara belum tentu menunjukkan solidnya basis sebuah partai. Jawa Barat adalah contoh nyata di mana peta jumlah suara dan kekuatan basis partai dapat menghasilkan temuan bertolak belakang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *