JAKARTA – Kebutuhan akan koneksi atau “orang dalam” menjadi hambatan yang paling banyak disebut anak muda Indonesia saat mencari kerja. Sebanyak 56,0 persen responden Survei Pemuda Indonesia 2026 memilih jawaban itu, lebih banyak daripada yang menyebut lapangan kerja terbatas.
Temuan tersebut dipaparkan Kepala Riset Lembaga Survei KedaiKOPI Ashma Nur Afifah dalam tayangan di kanal YouTube Lembaga Survei KedaiKOPI berjudul “Cari Kerja Susah, Harus Punya Orang Dalam?.”
“Yang pertama yang keluar dari pendapat responden adalah butuhnya koneksi atau orang dalam saat rekrutmen kerja,” kata Ashma.
Survei digelar secara daring pada Rabu (23/9/2026) hingga Selasa (29/9/2026) terhadap 1.213 responden Gen Z dan Milenial berusia 17-45 tahun. Kuesioner disebar lewat iklan media sosial, akun lembaga, dan jejaring personal.
Data kemudian dibobotkan dengan metode iterative proportional fitting (IPF) menurut jenis kelamin, usia, pendidikan, agama, wilayah, dan provinsi. Karena sampelnya non-probabilitas, survei ini tidak memiliki margin of error dan hasilnya dibaca sebagai gambaran pandangan responden.
Hambatan berikutnya yang disebut responden adalah lapangan kerja terbatas (48,0 persen), persaingan pencari kerja yang tinggi (41,3 persen), dan batasan usia (39,2 persen). Gaji yang terlalu rendah disebut 28,2 persen responden.
Kecerdasan buatan atau AI justru jarang dianggap penghalang. Hanya 7,1 persen yang memilihnya.
“Temuan ini mengindikasikan bahwa praktik adanya nepotisme atau orang dalam sebenarnya masih cukup lazim gitu ya saat rekrutmen kerja,” ujar Ashma.
Skor Kemudahan Cari Kerja Hanya 4,29
Kesan bahwa pekerjaan sulit didapat juga merata. Sebanyak 74,7 persen responden menilai mendapatkan pekerjaan di Indonesia saat ini sulit.
Ketika diminta memberi skor dari 1 (sangat sulit) sampai 10 (sangat mudah), rata-rata jawaban responden hanya 4,29. Skor yang paling banyak dipilih adalah 5 (23,2 persen), disusul skor 1 (16,4 persen).
Yang memberi skor 9 atau 10 hanya 6,4 persen.
Persepsi itu sejalan dengan data pengangguran yang dikutip dalam paparan survei. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional per Mei 2026 tercatat 4,65 persen, sedangkan TPT kelompok usia 15-24 tahun mencapai 17,37 persen.
Kikis Kesan Orang Dalam lewat Rekrutmen Terbuka
Berangkat dari temuan itu, KedaiKOPI merekomendasikan rekrutmen yang terbuka dan berbasis merit. Setiap pemberi kerja diminta mengumumkan lowongan, kriteria yang dibutuhkan, dan hasil seleksi secara transparan.
Rekomendasi itu terutama ditujukan kepada instansi pemerintah dan BUMN, supaya kesan bahwa lowongan hanya terbuka bagi yang punya kenalan bisa terkikis.
“Yang pertama yang pasti adalah rekrutmen yang terbuka dan berbasis merit,” ucap Ashma.
Rekomendasi berikutnya menyasar batasan usia, hambatan keempat terbanyak dalam survei ini.
“Yang kedua adalah hapus batasan usia yang mungkin tidak relevan dalam beberapa jenis lowongan kerja,” imbuh Ashma.