BANDUNG – Pengamat politik Hendri Satrio menilai komunikasi pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto sudah menjadi penyakit. Ia menempatkan komunikasi sejajar dengan ekonomi dan hukum sebagai tiga masalah terbesar negeri ini.

Penilaian itu muncul ketika Hensa, sapaan Hendri, ditanya soal kepala daerah yang bergurau “bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi” di tengah kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemandu acara mempertanyakan apakah ucapan itu soal komunikasi, empati, atau kesombongan.

Gurauan tersebut sebelumnya dilontarkan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran saat membahas penanganan karhutla.

Hensa berbicara dalam diskusi Terus Terang Goes to Campus di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Rekaman diskusi itu tayang di kanal YouTube Mahfud MD Official, Senin (19/10/2026).

“Komunikasi kan saya tempatkan dari awal sebagai tiga besar permasalahan di negeri ini: ekonomi, hukum, dan komunikasi. Tadinya saya pikir komunikasi ini hanya sekadar masalah. Tapi semakin ke sini kita melihat tidak lagi menjadi masalah, sudah mulai menjadi penyakit yang luar biasa, yang harus segera diperbaiki,” kata Hensa.

Komunikasi pemerintah menurut Hensa

Ketua Umum Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad itu mengaku baru di rezim sekarang ia merasa komunikasi begitu menentukan.

“Kali pertamanya saya, sejak lulus di Fikom Unpad, saya merasa komunikasi menjadi hal yang sangat penting, itu baru rezim ini. Karena sama sekali bobrok komunikasinya, dan akhirnya kita enggak bisa ke mana-mana,” ujarnya.

Ia menilai banyak persoalan negara tak kunjung beres karena komunikasi pemerintah tersendat.

Di forum yang sama, aktivis muda Virdian Aurellio bercerita soal warga Kalimantan yang tetap menembus asap demi bekerja. Selama dua pekan di sana, ia menemui lebih dari 15 kelompok relawan pemadam.

“Mereka 3 bulan di sana. Bukan kuat, dipaksa kuat. Dan sekarang negara menganggap dipaksa kuatnya masyarakat sebagai bentuk dari kenormalan,” ucap Virdian.

Soal daya tahan warga, Hensa punya kesimpulan sendiri. Seburuk apa pun penilaian publik, kata dia, Indonesia tetap berjalan karena rakyatnya terbiasa bertahan.

“Dijajah, ya dijajah, cuma bahagia ya tetap, gitu. Nah, itulah sebetulnya kekuatan kita. Nah, kelihatannya pemerintah kita menyadari hal itu, bahwa rakyatnya bisa survive. Jadi pemerintah tinggal bilang, ‘Hai rakyatku, inilah Indonesia. Silakan, ya, survive sendiri-sendiri. Silakan.’ Akhirnya udah, karena kita diperintahkan survive, kita survive sendiri-sendiri. Caranya ya macam-macam, ya. Termasuk Terus Terang ini, kan,” tutur Hensa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *