JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya alias undervalued.

Berdasarkan data BI, rupiah berada di level Rp 17.140 per dollar AS pada 21 April 2026, melemah 0,87 persen secara point to point dibandingkan akhir Maret 2026.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut, seharusnya rupiah bergerak lebih kuat, mengingat kinerja ekonomi domestik yang solid dan berbagai kebijakan moneter yang telah ditempuh bank sentral.

Bahkan, ketahanan ekonomi Indonesia dinilai tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Iran.

“Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,” ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (22/4/2026).

Perry mengakui, dampak perang Iran turut memberi tekanan terhadap rupiah melalui kenaikan harga minyak, penguatan dollar AS, hingga meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Kondisi ini ikut mempengaruhi aliran modal global ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bauran Kebijakan BI

Untuk meredam volatilitas, BI terus memperkuat bauran kebijakan dari sisi moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Kebijakan moneter difokuskan untuk menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi, sementara kebijakan makroprudensial serta sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan.

Salah satu langkah stabilisasi yang ditempuh adalah intervensi di pasar NDF luar negeri maupun melalui transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.

BI juga menjaga kecukupan cadangan devisa yang per akhir Maret 2026 mencapai sekitar 148,2 miliar dollar AS.

Selain itu, daya tarik instrumen keuangan domestik ditingkatkan melalui penyesuaian suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal asing dan memperkuat ketahanan eksternal.

“Dari sisi kebijakan moneter untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen, yaitu dengan meningkatkan intensitas intervensi dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah baik intervensi di offshore NDF maupun domestic spot maupun di DNDF,” ucapnya.

Target Pertumbuhan Tetap Dipatok Tinggi

BI juga mengarahkan kebijakan agar pertumbuhan uang primer (M0) melampaui 10 persen demi memastikan likuiditas pasar uang tetap memadai. Pertumbuhan M0 pada Maret 2026 tercatat tinggi di angka 11,8 persen secara tahunan.

Melalui kombinasi kebijakan tersebut, BI menargetkan pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen sepanjang 2026, dengan inflasi terjaga di rentang 1,5 hingga 3,5 persen.

Defisit transaksi pembayaran dijaga di level 0,5 hingga 1,3 persen dari PDB, sementara pertumbuhan kredit ditargetkan mencapai 8 hingga 12 persen.

“Secara fundamental nilai tukar rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat didukung oleh fundamental ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik dan juga komitmen BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *