JAKARTA — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terkait program nuklir kini memasuki babak baru yang melibatkan dinamika antarnegara di kawasan Timur Tengah.
Pengamat hubungan internasional, Pitan Daslani, mengungkapkan adanya dugaan keterlibatan negara Muslim lain yang memberikan informasi strategis mengenai fasilitas nuklir Iran kepada pihak Washington.
Dalam perbincangan di kanal YouTube Hendri Satrio Official, Pitan menyoroti peran penting Arab Saudi dalam mendorong langkah militer AS terhadap Teheran.
Menurutnya, isu nuklir Iran ini bukan sekadar persoalan keamanan bagi Amerika Serikat dan Israel, melainkan juga ancaman serius bagi stabilitas internal dunia Islam.
“Jadi November 2025 itu Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, pergi ketemu Presiden Trump dan suruh ngebom itu Iran, minta dibom itu karena dia tahu Iran lagi bikin nuklir,” ungkap Pitan, Kamis (23/4).
Berbagi Data Intelijen Strategis
Dugaan kolaborasi strategis ini disebut semakin intensif memasuki awal tahun 2026. Pitan menyebutkan bahwa adik dari Muhammad bin Salman (MBS), yakni Khalid bin Salman yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan Arab Saudi, melakukan pertemuan khusus dengan pihak Pentagon.
“Khalid bin Salman itu adalah Menteri Pertahanan (Arab Saudi), januari 2026 ini Khalid bin Salman pergi ketemu Menteri Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika itu untuk berbagi data intelijen,” tuturnya.
Menurut Pitan, pertemuan tersebut merupakan langkah nyata Arab Saudi untuk melumpuhkan kekuatan nuklir Iran. Ia menduga ada pertukaran data titik-titik koordinat strategis agar serangan AS lebih presisi.
“Dia kasih data intelijen. Kalau kamu mau serang di Iran ini datanya. Titik ini, ini, ini. Jadi Arab Saudi ini justru negara yang merasa terancam kalau Iran ini punya nuklir,” tambah Pitan.
Ancaman Proksi dan Keamanan Aramco
Alasan kuat di balik sikap keras Arab Saudi terhadap Iran berakar pada konflik berkepanjangan dengan kelompok proksi di kawasan, terutama kelompok Houthi di Yaman.
Kekhawatiran Riyadh memuncak karena infrastruktur ekonomi vital mereka kerap menjadi sasaran serangan.
“Kenapa merasa terancam itu? Karena Iran itu punya proksi di Houthi di Yaman. Houthi ini bolak-balik ngebom Arab Saudi, ini depot minyaknya Aramco. Aramco itu kan Pertaminanya Arab Saudi,” jelas Pitan.