JAKARTA – Hampir 50 karya sastrawan Aman Datuk Madjoindo, kakek mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar, selama ini tersimpan di Balai Pustaka. Di penerbit legendaris itu pula Aman dulu berkarier hingga menjadi orang nomor satu.

Boy mengungkapkan hal itu saat berbicara sebagai Ketua Yayasan Aman Datuk Madjoindo dalam acara Mengenang 130 Tahun Aman Datuk Madjoindo di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

“Jadi kami sampaikan beberapa karya dari Aman Datuk Madjoindo yang selama ini disimpan di Balai Pustaka. Itu ada hampir 50 yang 80 persennya bercerita tentang anak,” ujar Boy.

Dari puluhan karya tersebut, Si Doel Anak Betawi paling melekat di ingatan publik. Judul lain yang ikut diperkenalkan kembali oleh Balai Pustaka di antaranya Si Penidur, Si Cebol, dan Merimbun Tak Berdaun.

Kisah Si Doel bahkan diangkat ke layar lebar oleh sutradara Sjumandjaja pada 1973, lalu hidup lagi lewat sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang dibintangi Rano Karno.

Acara peringatan itu turut dihadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno. Fadli mendorong karya Aman dikembangkan menjadi kekayaan intelektual, sedangkan Rano menyiapkan Si Doel Musikal pada Januari 2027.

Dari Redaktur hingga Direktur Balai Pustaka

Boy bercerita, kakeknya tidak langsung duduk di kursi pimpinan. Aman lebih dulu bekerja sebagai staf redaktur, lalu penerjemah, kemudian pengarang, sebelum akhirnya dipercaya memimpin Balai Pustaka.

Sepanjang kariernya di sana, Aman banyak menulis cerita anak yang kemudian menjadi bagian penting sejarah sastra Indonesia. Sastrawan asal Solok, Sumatera Barat, itu lahir pada 1896, sehingga tahun ini genap 130 tahun sejak kelahirannya.

Lewat yayasan yang ia pimpin, Boy kini ingin karya-karya yang lama tersimpan itu kembali sampai ke tangan pembaca muda. Yayasan juga berupaya memperkenalkan lagi pemikiran Aman melalui berbagai lembaga terkait, termasuk Balai Pustaka sendiri.

“Beliau berkarier di Balai Pustaka mulai dari staf redaktur, penerjemah, pengarang. Sampai beliau purna tahun 59, menjadi pimpinan Balai Pustaka, menjadi direktur,” kata Boy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *