Jakarta — Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menegaskan bahwa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) harus bersih dari politisi. Pernyataan itu disampaikannya karena ia merasa bertanggung jawab sebagai kader Nahdlatul Ulama (NU) yang prihatin dengan kondisi PBNU saat ini.
“Bertanggung jawab memperbaiki, sehingga salah satu formulanya PBNU bersih dari politisi. Politisi NU silakan masuk partai,” tegas Cak Imin di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (22/6/2026).
Pernyataan Cak Imin muncul di tengah persiapan PBNU menggelar Muktamar ke-35 yang direncanakan berlangsung pertengahan 2026. Ia mendorong adanya penegasan agar politisi tidak menjadi bagian dari kepengurusan PBNU.
“Seharusnya aturannya ada, cuman ketegasan sikap,” ujar Cak Imin.
Lebih jauh, Cak Imin tidak ragu menyebut kepengurusan PBNU periode sekarang sebagai yang paling mundur. Sebagai kader NU sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, ia menginginkan perbaikan menyeluruh di organisasi tersebut.
“Ini sebagai rasa cinta saya sebagai kader agar terjadi perubahan manajemen menyeluruh. Supaya tidak ada lagi apa… kesimpulan periode ini periode yang paling gagal dibanding periode-periode yang lain. Supaya disadari ada perbaikan,” tegas Cak Imin.
Sehari sebelumnya, melalui cuitan di akun X @cakimiNOW pada Minggu (21/6/2026), Cak Imin mengingatkan bahwa NU bukan organisasi politik.
“NU itu bukan organisasi politik yang membuat hubungan selalu kompetitif, NU itu orkestrasi kultural yang Minna, tidak saling meminhumkan; berbagai kemampuan kecerdasan sosial bersatu padu,” tulisnya.
Ia menegaskan, partai politik adalah tempat untuk berpolitik, sementara NU adalah tempat menyatu tanpa ketegangan.
“Yang main-main di NU keluarkan aja. Yang berpolitik silahkan di Partai aja. NU itu lesehan dan menyatu tanpa ketegangan. Kangen Pak Hasyim Muzadi rek!” ujar Cak Imin.