JAKARTA — Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi angkat bicara mengenai mencuatnya wacana duet Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM pada Pemilu 2029.
Wacana tersebut ikut menjadi perbincangan setelah nama Gibran dan KDM disebut dalam sebuah pertemuan relawan yang turut dihadiri Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Saat ditanya mengenai pembicaraan itu, Budi Arie tidak memberikan dukungan ataupun penolakan terhadap kemungkinan duet tersebut.
“Itu pribadi-pribadi, sudah biar aja kita hormati lah,” kata Budi Arie dalam perbincangan bersama pengamat politik Hendri Satrio di YouTube Hendri Satrio Official.
Budi Arie menjelaskan setiap orang dalam pertemuan tersebut memiliki hak untuk menyampaikan pandangan politiknya. Dia juga menepis anggapan bahwa pernyataan-pernyataan yang kemudian viral sudah dirancang sebelumnya.
Menurut Budi Arie, dirinya bahkan tidak pernah meminta pembicaraan dalam forum tersebut direkam ataupun disebarkan.
“Jadi itu pertemuan kan semua orang boleh ngomong. Saya enggak ngomong-ngomong awalnya,” ujarnya.
“Saya juga enggak ada merencanakan, ‘Ntar gue ngomong ini, lu viralkan, lu rekam.’ Rencana enggak ada. Perintah aja enggak ada untuk ngerekam. Saya enggak pernah perintah,” sambungnya.
Pembicaraan kemudian mengarah pada masa depan pasangan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran. Hensa lalu mempertanyakan apakah terdapat kemungkinan Prabowo tidak lagi menggandeng Gibran pada kontestasi berikutnya.
Budi Arie tidak menjawab secara tegas. Menurut dia, konfigurasi pasangan calon merupakan bagian dari politik taktis.
“Emangnya ada kemungkinan Prabowo enggak bersama Gibran lagi?” tanya Hensa.
“Soal itu politik taktis,” jawab Budi Arie.
Saat kembali ditanya mengenai kemungkinan Gibran tetap bersama Prabowo pada 2029, Budi Arie menilai terlalu dini untuk memastikan konfigurasi politik empat tahun mendatang.
Dia menggambarkan situasi politik menuju 2029 seperti permainan kartu yang bahkan belum selesai dikocok.
“Semuanya kan masih, menurut saya ya, kalau saya bilang, kartunya masih dikocok, belum dibagi,” kata Budi Arie.
Sebelumnya, Budi Arie juga menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran harus dijaga sampai akhir masa jabatan, terlepas dari dinamika politik yang berkembang.
Dia mengingatkan Prabowo dan Gibran terpilih sebagai satu paket presiden dan wakil presiden sehingga upaya untuk terus membenturkan keduanya dinilai tidak tepat.
“Pak Prabowo dan Mas Gibran ini kan dipilih dalam satu paket. Ingat loh, ini satu paket,” ujarnya.
“Jadi kalau ada pihak-pihak yang ingin selalu membenturkan presiden dan wapres, menurut saya enggak pada tempatnya. Kita harus menjaga.”
Budi Arie pun menegaskan dukungannya saat ini adalah kepada pemerintahan Prabowo-Gibran, bukan kepada salah satu figur secara terpisah.
“Menjaga pemerintahan Prabowo-Gibran dong. Jangan hanya satu wapres aja. Bahwa kita mendukung Mas Gibran dalam konteks Pak Prabowo-Gibran.”