JAKARTA – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak memegang dolar AS sehingga tidak terdampak langsung oleh penguatan nilai dolar menuai beragam tanggapan.
Analis komunikasi politik Hendri Satrio (Hensa) menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk komunikasi yang nasionalis.
Menurutnya, Prabowo ingin menyampaikan pesan bahwa mayoritas rakyat Indonesia, khususnya di pedesaan, hidup dengan ekonomi rupiah sehingga kebijakan pemerintah harus lebih berpihak pada ketahanan dalam negeri.
“Dari sisi komunikasi publik, ini nasionalis, pernyataan ini efektif untuk membangun narasi bahwa pemerintah memahami dan dekat dengan kehidupan masyarakat bawah. Ini cara nasionalis untuk menenangkan khawatir publik soal fluktuasi dolar, sekaligus mengajak fokus pada produksi dalam negeri,” ujar Hensa kepada wartawan.
Hensa menambahkan bahwa pendekatan komunikasi semacam ini memang sering digunakan untuk menyederhanakan isu ekonomi yang kompleks agar lebih mudah dipahami kalangan akar rumput. Namun, menurutnya, penyederhanaan tersebut juga berisiko jika tidak diimbangi dengan penjelasan yang lebih lengkap mengenai dampak ekonomi secara keseluruhan.
“Secara politik, ini bisa dibilang cerdas karena menyentuh emosi nasionalisme dan kedekatan dengan rakyat kecil. Tapi dari sisi edukasi publik, pernyataan ini perlu dilengkapi data lebih detail agar tidak menimbulkan kesalahpahaman bahwa fluktuasi dolar hanya masalah kota besar saja,” kata Hensa.
Berbeda dengan Hensa, ekonom dan analis pasar modal Ferry Latuhihin menilai pernyataan Prabowo kurang tepat. Ia menegaskan bahwa kenaikan dollar AS berdampak luas kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga desa, meski mereka tidak langsung memegang mata uang dollar.
“Salah pak, kalau dollar naik pak semua orang kena pak bukan cuma orang desa aja, orang utan juga kena pak. Bapak inget, impor BBM bayarnya pakai apa pak kalau bukan dollar? Kalau dollar naik, apalagi harga minyak naik, semua orang kena pak,” kata Ferry dalam video yang diunggah akun X Hendri Satrio, @satriohendri.
Ia menambahkan bahwa minyak goreng yang sudah naik sekitar 25 persen dari Rp36.000 ke Rp45.000 per liter merupakan bukti nyata dampak tersebut.
Selain itu, komoditas seperti gula, kacang kedelai untuk tahu dan tempe, jagung, hingga beras impor juga dibayar dengan dolar, sehingga harganya akan terdorong naik dan dirasakan langsung oleh masyarakat desa.
“Jadi bapak salah kalau bapak bilang orang desa, orang kampung tidak megang dollar toh ga berpengaruh (harga dollar naik) kepada mereka. Memang mereka enggak megang dollar, megang rupiah aja kadang-kadang kok namanya orang desa tidak punya income tetap. Tapi kalau bapak bilang orang desa tidak pegang dollar dan tidak jadi korban (kenaikan harga) dollar bapak salah,” tegas Ferry.(*)