JAKARTA – Gelaran Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 menghasilkan konfigurasi politik baru di kursi parlemen Senayan. Kontestasi demokrasi lima tahunan yang melibatkan lebih dari 200 juta pemilih ini tidak hanya menjadi ajang perebutan kursi legislatif, tetapi juga cerminan pergeseran peta preferensi pemilih di berbagai penjuru Nusantara.

Peta hasil suara Pemilu DPR 2024 memperlihatkan wajah kompetisi politik Indonesia yang kini jauh lebih dinamis dan tak lagi didikte oleh satu kekuatan tunggal.

Berdasarkan hasil pemetaan dari Lembaga Survei KedaiKOPI terkait partai peraih suara terbanyak di setiap provinsi, muncul sebuah paradoks elektoral yang menarik.

Partai politik yang berhasil keluar sebagai jawara perolehan suara di tingkat nasional, ternyata tidak lantas menjadi penguasa di mayoritas wilayah provinsi.

Di level persentase nasional, PDI Perjuangan sukses mempertahankan posisinya sebagai pemenang dengan torehan 16,72 persen suara. Posisi ini diikuti secara berurutan oleh Partai Golkar (15,28 persen), Partai Gerindra (13,22 persen), PKB (10,61 persen), Partai NasDem (9,65 persen), PKS (8,42 persen), Partai Demokrat (7,43 persen), serta PAN (7,23 persen). Kedelapan partai politik inilah yang sukses melewati ambang batas parlemen 4 persen dan berhak menempatkan kadernya di Senayan.

Namun, saat tolok ukur kemenangan digeser berdasarkan jumlah provinsi yang berhasil dikuasai, peta kekuatannya berubah wujud.

Partai Golkar secara mengejutkan tampil mendominasi dengan kemenangan di 13 provinsi yang membentang luas dari kawasan Sumatera hingga Papua.

Sementara itu, PDIP membuntuti di tempat kedua dengan raihan 11 provinsi, disusul oleh Gerindra yang menancapkan pengaruhnya di enam provinsi.

Sisa daerah lainnya dibagi kepada Nasdem (empat provinsi), PKB (dua provinsi), serta PAN dan PKS yang masing-masing mengamankan kemenangan di satu provinsi.

Sebaran Kekuatan di Berbagai Pulau

Bila ditelisik lebih jauh, dominasi Golkar terasa sangat pekat di Pulau Sumatera. Partai berlambang beringin ini sukses menyapu bersih kemenangan di Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu.

Di sisi lain, Gerindra memenangi wilayah Kepulauan Bangka Belitung dan Lampung. Adapun Nasdem merebut Sumatera Barat, sedangkan basis pemilih tradisional berhaluan Islam di Aceh menjadi lumbung suara bagi PKB.

Berpindah ke kawasan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, peta persaingan terlihat paling variatif. PDIP masih perkasa merawat teritori yang selama ini dikenal sebagai “kandang banteng”, yakni di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Bali, ditambah keunggulan di NTT.

PKB sukses mengamankan dan mengukuhkan basis nahdliyin di Jawa Timur. Sementara itu, Golkar tampil mengejutkan dengan merebut takhta Banten dan Jawa Barat dari kekuatan lama, disusul PKS yang sukses menaklukkan Ibu Kota Jakarta. Untuk wilayah NTB, suara terbanyak berlabuh pada Gerindra.

Di Pulau Kalimantan, kue dukungan terbagi secara merata. PDIP merajai Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Golkar menguasai Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, sementara Gerindra sukses memenangi Kalimantan Utara.

Untuk Pulau Sulawesi, sebaran suara politik justru terlihat paling beragam. Golkar, yang secara historis memiliki akar kuat di kawasan timur, berhasil memenangi wilayah Sulawesi Tengah.

Gerindra berekspansi dengan meraup dua provinsi sekaligus, yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. PDIP unggul di Sulawesi Utara, sementara NasDem mencatatkan kemenangannya di Sulawesi Barat serta Gorontalo.

Di kawasan paling timur Indonesia, jangkauan luas Golkar kembali terbukti melalui kemenangannya di Papua Barat dan Papua Barat Daya.

PDIP mendominasi di wilayah Maluku Utara, Papua, Papua Selatan, dan Papua Tengah. Di provinsi pemekaran baru seperti Papua Pegunungan yang menjadi arena perebutan segar antarpartai, Nasdem sukses keluar sebagai pemenang, sedangkan PAN menorehkan keunggulan di wilayah Maluku.

Kedalaman versus Keluasan Jangkauan

Pemetaan wilayah ini memberikan penegasan atas satu karakter krusial dari sistem kepartaian di Tanah Air. Kemenangan nasional PDIP sangat ditopang oleh tingginya konsentrasi suara di provinsi-provinsi dengan populasi padat, terutama di Jawa, Bali, serta Kalimantan.

Sebaliknya, kekuatan Golkar bersandar pada penetrasi dukungan yang tersebar merata di banyak provinsi (terutama di luar Pulau Jawa), meskipun angka perolehan suara mutlaknya di tiap daerah relatif lebih kecil. Singkatnya, PDIP menang secara kedalaman basis, sementara Golkar menang secara keluasan teritorial.

Peta sebaran elektoral ini tentu menjadi materi evaluasi strategis bagi partai politik ke depannya: apakah akan fokus memperkuat basis lama atau berekspansi memperluas jangkauan ke teritori baru.

Di mata publik dan pengamat, dinamika ini menjadi bukti sahih bahwa konstelasi politik Indonesia kian cair dan kompetitif. Tidak ada satu pun partai yang benar-benar mampu mendominasi mutlak dari Sabang sampai Merauke.

Setiap provinsi memiliki dinamika lokalnya sendiri, sebuah pengingat bahwa kemenangan elektoral sejatinya adalah perpaduan kompleks antara loyalitas basis massa, kinerja mesin partai, serta konteks kewilayahan yang khas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *