JAKARTA – Sebanyak 81,5 persen pemuda Indonesia mengaku bangga menjadi warga negara Indonesia (WNI). Namun, nasionalisme pemuda yang tinggi itu tidak diiringi optimisme yang sama, karena hanya 54,4 persen yang yakin Indonesia Emas 2045 bakal tercapai.
Temuan itu berasal dari survei Lembaga Survei KedaiKOPI yang dirilis dalam momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98. Hasilnya dipaparkan dalam diskusi bertajuk “Menakar Arah Pemuda: Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029” di Tamarin Hotel, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026).
Responden diminta menilai rasa bangga sebagai WNI pada skala 1 sampai 10. Rata-ratanya 7,51, dan hampir tiga dari sepuluh responden (28,7 persen) memberi nilai tertinggi.
“Jadi memang sebenarnya secara nasionalisme, identitas sebagai Indonesia, pemuda ini masih baik. Mereka tidak malu dan cukup bangga punya identitas Indonesia itu sendiri,” kata Kepala Riset Lembaga Survei KedaiKOPI Ashma Nur Afifah.
Nilai-nilai Sumpah Pemuda juga belum dianggap usang. Sebanyak 71,3 persen responden menilai semangat satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan masih relevan di era digital.
Nasionalisme Pemuda Belum 100 Persen
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio justru menilai nasionalisme pemuda belum memuaskan. Dalam pidato kuncinya, ia mempersoalkan 18,5 persen responden yang tidak bangga menjadi WNI.
“Buat saya itu hasil yang buruk, karena ada 18,5 persen pemuda Indonesia tidak bangga menjadi orang Indonesia. Jadi buat saya, harusnya angka itu 100 persen,” kata pria yang akrab disapa Hensa itu.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli sependapat. Menurut dia, rasa bangga semestinya sudah menjadi hal pasti bagi mereka yang lahir dan besar di Indonesia.
“Ini menjadi PR buat pemerintah, buat partai politik, bahwa proyek nasionalisme itu memang sesuatu yang harus terus-menerus dijalankan,” ujar Lili.
Bangga, tapi Ragu soal Indonesia Emas
Di sisi optimisme, responden terbelah. Sebanyak 45,6 persen pesimistis Indonesia Emas 2045 bisa tercapai.
“Jadi sebenarnya nasionalisme tinggi, Sumpah Pemuda-nya masih relevan, tapi untuk mencapai agenda Indonesia Emas 2045, optimismenya makin turun,” jelas Ashma.
Perwakilan pemuda Firdarainy Nurul Izzah merasakan langsung jarak antara rasa bangga dan keyakinan pada masa depan itu.
“Ketika saya berkawan dengan teman-teman di luar negeri, saya selalu bangga menceritakan saya dari Indonesia. Tetapi di sisi lain, saya selalu bertanya-tanya, apakah dengan pekerjaan ini saya bisa mandiri secara ekonomi, atau apakah saya bisa menyampaikan kritik, dan kritik itu bisa didengar oleh mereka yang memegang kebijakan,” tuturnya.
Hensa juga mengkritik cara negara memakai kata “pemuda”.
“Kata-kata pemuda ini sering sekali digunakan oleh negara untuk membuat seolah-olah kita bersiap menghadapi Indonesia Emas,” ucapnya.
Survei ini digelar secara daring pada 23-29 September 2026 terhadap 1.213 responden berusia 17-45 tahun dari 36 provinsi. Hasilnya dibobotkan agar sebaran responden mendekati populasi menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).