JAKARTA – Mantan Direktur Utama TVRI Helmy Yahya mengaku kalah dalam pilkada karena tidak punya cukup uang. Menurut Helmy Yahya, persaingan politik hari ini lebih banyak ditentukan oleh popularitas yang bisa dibeli.

Pengakuan itu ia sampaikan saat berbincang dengan pengamat komunikasi politik Hendri Satrio di kanal YouTube Hendri Satrio Official. Video tersebut tayang pada Senin (19/10/2026).

Helmy, yang dikenal luas sebagai “raja kuis”, sudah tiga kali kalah dalam pilkada. Ia tidak menutupi penyebabnya.

“Saya tuh kalah karena saya enggak punya duit aja, Bos. Terus terang tuh. Karena kompetisi sekarang untuk berebut menjadi pimpinan apapun sekarang bukan kontes konsep, bukan kontes pintar-pintaran, tapi kontesnya adalah popularity yang bisa diraih dengan duit,” kata Helmy.

Hendri sempat menanyakan apakah Helmy menyesal pernah terjun ke politik. Helmy justru menyebut pengalaman itu sebagai bagian yang membesarkan dirinya, karena membuat pandangannya soal politik lebih didengar.

“Podcast gua dipilih orang karena orang tahu gua ngerti politik walaupun gua tidak berhasil,” ujarnya.

Helmy Yahya Singgung Wacana Pilkada lewat DPRD

Helmy lalu menyinggung wacana Presiden Prabowo Subianto agar bupati dan gubernur dipilih DPRD. Menurut dia, wacana itu muncul untuk menekan persaingan yang ditentukan uang.

Ia juga melihat banyak orang pintar gagal dalam pemilihan, sementara yang terpilih belum tentu yang terbaik.

“Itu sebenarnya kita harus me-review election system kita udah benar apa enggak nih?” ucap Helmy.

Meski begitu, Helmy mengajak publik tidak kehilangan harapan. Ia mengutip pandangan pakar hukum tata negara Mahfud MD bahwa demokrasi baru bisa berjalan baik bila rakyatnya terdidik dan sudah lepas dari garis kemiskinan. Sebab, dalam demokrasi semua hal diputuskan lewat suara terbanyak.

“Nah, kalau masyarakatnya masih dua hal ini tidak educated dan masih di bawah garis kemiskinan, gampang sekali suaranya dibeli,” jelasnya.

Helmy, yang kini kerap mengisi seminar kepemimpinan, mencontohkan Singapura, China, dan Korea Selatan. Ketiganya pernah tertinggal, tetapi kini melesat jauh. Kuncinya, kata dia, ada pada kepemimpinan dan pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *