JAKARTA – Mantan Direktur Utama TVRI Helmy Yahya menilai masuknya Rocky Gerung dan Anwar Usman ke dalam tim yang baru dilantik adalah hak prerogatif Presiden. Menurut dia, Presiden punya pertimbangan sendiri, termasuk kemungkinan ingin merangkul semua pihak.
Hal itu ia sampaikan saat berbincang dengan pengamat komunikasi politik Hendri Satrio di kanal YouTube Hendri Satrio Official yang tayang Senin (19/10/2026).
Hendri membuka perbincangan dengan menyinggung pelantikan tim tersebut, yang menurutnya membawa isu ekonomi. Namun, kata Hendri, masuknya Rocky Gerung saja sudah dipertanyakan banyak orang, apalagi ditambah Anwar Usman.
Rocky Gerung selama ini dikenal sebagai pengamat politik yang kerap mengkritik keras pemerintahan Joko Widodo. Adapun Anwar Usman adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang dicopot dari kursi ketua oleh Majelis Kehormatan MK pada 2023 karena pelanggaran etik berat.
Helmy tidak mau memperpanjang soal itu.
“Tapi itu prerogatifnya Presiden, sudahlah, dia kan punya pertimbangan sendiri. Mungkin dia mau merangkul semua,” kata Helmy.
Belajar dari Lee Kuan Yew
Belakangan dalam perbincangan, Hendri bertanya bagaimana Indonesia bisa bangkit. Helmy menjawab Indonesia butuh kepemimpinan di semua lini. Saat ditanya kepemimpinan seperti apa, jawabannya singkat.
“Strong vision gitu dan kita harus mengkritisi,” ujarnya.
Ia lalu mencontohkan Lee Kuan Yew. Saat Singapura dikeluarkan dari Malaysia pada 1965, negara itu tidak punya uang, air bersih, tentara, maupun tambang. Lee bahkan sempat menangis. Menurut Helmy, Lee kemudian menerapkan tiga kebijakan.
Pertama, Singapura berdiri untuk semua golongan, baik India, Melayu, China, maupun warga kulit putih. Kedua, bahasa Inggris dijadikan bahasa pengantar sehari-hari sehingga tidak ada konflik antarsuku gara-gara bahasa. Ketiga, soal pejabat.
“Nomor tiga, pejabat-pejabatnya dibayar tinggi dan gak boleh korupsi,” kata Helmy.
Setelah itu, lanjut Helmy, Singapura mengejar pendidikan. Hasilnya, dua kampusnya kini masuk jajaran 20 universitas terbaik dunia.
Helmy menilai kepemimpinan yang kuat itu tidak putus di tengah jalan. Tongkat estafetnya berpindah dari Lee Kuan Yew ke Goh Chok Tong, lalu Lee Hsien Loong, dan kini Lawrence Wong.