JAKARTA – Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menyatakan pihaknya akan memanfaatkan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, sebagai tempat pemeliharaan dan perawatan pesawat tempur TNI Angkatan Udara (AU).
“Kertajati ke depan dikembangkan untuk memperkuat kemampuan pemeliharaan pesawat TNI AU, tidak hanya pesawat angkut seperti Hercules, tetapi secara bertahap juga diarahkan agar memiliki kemampuan mendukung pemeliharaan pesawat tempur,” kata Rico saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Rico menjelaskan langkah ini bertujuan agar perawatan pesawat tempur TNI AU ke depan dapat dilakukan sepenuhnya di dalam negeri dengan mengandalkan tenaga sumber daya manusia (SDM) lokal.
Menurutnya, jika seluruh proses perawatan pesawat dilakukan di dalam negeri, Indonesia tidak lagi bergantung pada pihak asing dalam memperbarui maupun merawat teknologi pesawat. Di samping itu, industri pertahanan dalam negeri beserta SDM-nya juga akan meningkat kualitasnya berkat transfer teknologi dari pihak luar ke perusahaan lokal.
“Kemajuan itu nantinya juga dapat dimanfaatkan industri pertahanan dalam negeri untuk memperkuat alat utama sistem senjata (alutsista) Indonesia,” ujarnya.
Meski demikian, Rico belum dapat memastikan konsep tempat perawatan pesawat tempur yang akan dibangun di Bandara Kertajati. Saat ini pemerintah masih fokus membangun Bandara Kertajati menjadi fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) untuk pesawat angkut Hercules se-Asia.
“Untuk pesawat tempur ini masih merupakan arah pengembangan ke depan, sehingga belum pada tahap penetapan jenis pesawat atau skema MRO-nya,” terang dia.
Pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan optimisme bahwa Bandara Kertajati mampu menjadi tempat perawatan pesawat tempur TNI AU. Keyakinan itu didasari oleh modal kuat yang telah dimiliki industri dirgantara dalam negeri.
Salah satu modal tersebut adalah keberhasilan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) melakukan pemeliharaan kelas berat pesawat Hercules untuk pertama kalinya. Keberhasilan itu, kata Sjafrie, menandai peningkatan kualitas industri dalam negeri di bidang teknologi dan sumber daya manusia.
Atas dasar itu, PT GMF dan PT Dirgantara Indonesia (DI) dipastikan akan terlibat dalam pengembangan MRO Kertajati. Namun, Sjafrie belum merinci kapan fasilitas MRO di Kertajati mulai beroperasi untuk pemeliharaan pesawat tempur.
Ia hanya berharap pembangunan MRO segera selesai agar dapat dimanfaatkan PT DI dan PT GMF untuk merawat alutsista pesawat tempur maupun pesawat angkut TNI AU.
“Kita berupaya pengembangan kekuatan pertahanan ini kita tingkatkan dengan menggunakan kemampuan dari awak teknis yang berasal dari putra-putri bangsa Indonesia sendiri,” ujar Sjafrie.