JAKARTA — Perubahan alur dan penyederhanaan sejumlah cerita dalam serial live action Avatar: The Last Airbender sempat menjadi perhatian penggemar versi animasinya. Sejumlah karakter dan peristiwa harus diperkenalkan dalam ruang cerita yang lebih terbatas.

Pengamat industri perfilman Satrio “Pepo” Pamungkas menilai perubahan tersebut merupakan konsekuensi dari proses adaptasi. Versi live action tidak harus menyalin seluruh unsur animasi karena masing-masing medium memiliki kebutuhan penceritaan yang berbeda.

“Versi animasinya cukup panjang. Dengan keterbatasan ruang tayang atau potongan durasi, diperlukan strategi percepatan untuk menghadirkan dan memperkenalkan karakter,” kata Pepo.

“Pembuat cerita harus memperkenalkan seluruh karakter dalam ruang dan durasi yang sudah ditentukan. Itulah uniknya adaptasi, tidak harus sama karena ada pengembangan,” lanjutnya.

Produser sekaligua Dosen Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta itu juga berpendapat, penyederhanaan cerita tidak serta-merta membuat perkembangan karakter dapat disebut terburu-buru.

Perubahan itu, menurutnya, justru menjadi cara pembuat karya menyesuaikan cerita dengan karakteristik medium barunya.

“Perubahan itu merupakan keindahan seni beradaptasi dari seni yang satu menjadi seni yang baru. Jadi, tidak perlu hanya dipikirkan sebagai sesuatu yang terlalu cepat atau terburu-buru,” ujar Pepo.

Serial Netflix Avatar: The Last Airbender. (Foto: Netflix).

“Itulah cara bercerita dalam ruang kesenian yang berbeda. Kalau diarahkan menjadi seni pertunjukan teater, bentuknya tentu akan berbeda lagi,” sambungnya.

Selain perbedaan medium, perubahan karakter dan alur juga dipengaruhi oleh pihak yang memproduksi karya tersebut.

Pepo mengatakan, setiap platform maupun perusahaan mempunyai cara pandang dan kepentingan penceritaannya masing-masing.

“Setiap ruang tayang dan setiap tempat mempunyai ideologi masing-masing. Ketika cerita berpindah dari satu perusahaan film ke perusahaan lain, akan ada konsep berpikir dan ideologi kesenian yang berbeda,” kata Pepo.

“Dalam ruang Netflix, Netflix berhak membatasi cerita, membuat pengembangan, ataupun menghadirkan cerita dalam versinya sendiri. Kalau kemudian muncul pro dan kontra dari pencinta Avatar, itu wajar saja,” tutupnya.

Baca juga: Bukan Sekadar Adaptasi, Avatar Menunjukkan Kekuatan Pasar Nostalgia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *