JAKARTA — Dokter Spesialis Penyakit Dalam Zubairi Djoerban mengatakan, sejumlah jenis kanker dapat dicegah dan memiliki peluang disembuhkan apabila ditemukan pada stadium awal.
Pernyataan itu disampaikan Zubairi saat berbincang dengan pengamat politik Hendri Satrio dalam tayangan di kanal YouTube Hendri Satrio Official.
Menurut Zubairi, perkembangan ilmu kedokteran membuat masyarakat kini memiliki lebih banyak cara untuk menekan risiko kanker, mulai dari vaksinasi hingga penerapan gaya hidup sehat.
“Yang pertama sebenarnya jawabannya adalah preventable. Jadi kanker bisa dicegah,” kata Zubairi.
Ia mencontohkan kanker serviks yang dapat dicegah antara lain melalui vaksinasi human papillomavirus (HPV).
Selain itu, vaksin hepatitis B juga berperan dalam mencegah infeksi hepatitis B yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker hati.
“Sekarang sudah ada vaksinnya, jadi orang bisa vaksinasi hepatitis B sehingga bisa tercegah dari kanker liver yang karena hepatitis B,” ujarnya.
Zubairi menambahkan, faktor gaya hidup juga berperan dalam risiko kanker. Obesitas, misalnya, disebut dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit, termasuk kanker payudara.
Faktor keturunan juga perlu diperhatikan. Ia mencontohkan mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara maupun kanker ovarium pada keluarga tertentu.
Meski demikian, Zubairi menegaskan bahwa kanker bukan berarti selalu berujung pada kematian.
“Bisa sembuh. Berbagai kanker, kanker beda-beda,” kata dia.
Menurut Zubairi, kanker stadium awal memiliki peluang untuk disembuhkan. Bahkan, kemajuan terapi saat ini memungkinkan sebagian pasien dengan kanker yang telah menyebar tetap bertahan hidup dalam jangka panjang dengan kondisi yang baik.
“Stadium awal bisa sembuh. Jadi bisa dicegah, bisa disembuhkan kalau ketemu di stadium awal,” ujarnya.
Ingatkan soal penggunaan stem cell
Dalam wawancara yang sama, Hendri Satrio kemudian menyinggung maraknya penggunaan teknologi stem cell atau sel punca yang kerap ditawarkan sebagai pengobatan untuk berbagai kondisi.
Zubairi mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai setiap klaim manfaat terapi sel punca.
Menurut dia, penggunaan stem cell harus didasarkan pada bukti ilmiah dan indikasi medis yang jelas.
Ia mencontohkan peringatan dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat terkait berbagai pengobatan sel punca yang belum terbukti manfaatnya secara ilmiah dan berpotensi menimbulkan efek samping serius.
“Kalau saya menjawab begini harus berdasarkan bukti,” kata Zubairi.
Namun, bukan berarti seluruh penggunaan sel punca tidak memiliki dasar medis.
Zubairi menjelaskan bahwa dalam pengobatan penyakit tertentu, seperti leukemia, transplantasi sel punca telah digunakan sebagai bagian dari terapi dan memiliki bukti ilmiah yang kuat.
Dalam prosedur tersebut, pasien dapat menerima sel punca miliknya sendiri yang telah dipersiapkan atau sel punca dari donor yang sesuai setelah menjalani rangkaian terapi tertentu.
“Itu yang disebut stem cell untuk pengobatan. Ini buktinya sudah kuat banget dan sudah menjadi standar,” ujarnya.
Karena itu, Zubairi menekankan pentingnya membedakan terapi sel punca yang telah memiliki indikasi dan bukti ilmiah dengan berbagai klaim penggunaan stem cell untuk beragam penyakit atau tujuan yang belum terbukti.