JAKARTA — Kehadiran Avatar: The Last Airbender dalam format live action tidak hanya menunjukkan perpindahan cerita dari animasi ke medium baru. Serial tersebut juga memperlihatkan bagaimana nostalgia dan basis penggemar lama menjadi modal penting bagi industri hiburan.

Pengamat industri perfilman Satrio “Pepo” Pamungkas mengatakan, karya yang telah memiliki banyak penggemar memberi rasa percaya diri lebih besar kepada produsen untuk menghadirkannya kembali.

“Nostalgia dalam seni hiburan itu pasti, bahkan sangat kuat. Apalagi kalau sebuah karya memang sudah mempunyai basis penonton yang banyak,” kata Pepo.

“Termasuk Dragon Ball, Doraemon, atau apa pun yang mempunyai basis penggemar luar biasa. Apalagi The Last Airbender, sejak awal memang sudah memiliki basis penonton yang besar,” lanjutnya.

Satrio 'Pepo' Pamungkas
Produser dan Dosen Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ). (Foto: Dok. Pribadi)
Satrio ‘Pepo’ Pamungkas
Produser dan Dosen Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ). (Foto: Dok. Pribadi)

Menurut Pepo, industri akan melihat apakah penonton lama masih dapat ditarik kembali. Adaptasi juga menjadi cara untuk memperkenalkan cerita tersebut kepada generasi penonton baru.

Namun, mengandalkan nama besar saja tidak cukup. Versi baru tetap harus mempunyai daya tarik yang membedakannya dari karya sebelumnya.

“Industri pasti melihat bagaimana pasar sebelumnya, yang sudah mempunyai konsumen atau penonton dalam jumlah banyak, dicoba untuk dihadirkan kembali,” ujar Pepo.

“Tetapi, tetap harus ada unique selling point yang bisa menghadirkan kembali penonton lama sekaligus memperoleh penonton yang lebih banyak,” sambungnya.

Dalam format serial, Avatar: The Last Airbender dinilai memiliki ruang lebih besar untuk membangun hubungan antara penonton dan karakter. Cerita yang lebih panjang membuat perkembangan tokoh dapat diikuti secara bertahap.

Hal itu menjadi pembeda dengan format film tunggal yang mempunyai durasi lebih terbatas.

“Melalui serial, kita menjadi lebih terikat, lebih dekat, dan lebih pekat dalam mengikuti cerita maupun tokoh-tokoh lain di luar tokoh utama,” kata Pepo.

Ia menambahkan, perbedaan antara versi animasi dan live action merupakan konsekuensi dari proses adaptasi. Penyederhanaan alur dan karakter dibutuhkan agar cerita sesuai dengan durasi serta medium yang digunakan.

“Itulah uniknya adaptasi. Tidak harus sama karena ada pengembangan. Perubahan itu merupakan bagian dari keindahan seni ketika sebuah karya berpindah dari bentuk seni yang satu menjadi bentuk seni yang baru,” ujar Pepo.

Bagi industri, basis penggemar yang sudah terbentuk pada akhirnya mengurangi ketidakpastian pasar. Produsen tidak sepenuhnya memulai dari nol karena nama, karakter, dan dunia ceritanya telah dikenal publik.

“Kepercayaan diri itulah yang kemudian menumbuhkan keyakinan dari sisi finansial dan industri untuk menciptakan sebuah produk baru, yaitu versi live action,” tutup Pepo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *