JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyatakan keheranannya terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rata-rata mencapai 5 persen selama tujuh tahun terakhir. Baru dua bulan menjabat, Prabowo merasa tertohok karena angka pertumbuhan itu justru berbanding terbalik dengan peningkatan jumlah penduduk miskin.
“Kenyataan bahwa setelah 7 tahun tumbuh (rata-rata) lima persen, masak penduduk miskin tambah? Negara tambah kaya, rakyat miskin tambah, ini kan sesuatu yang aneh yang anomali,” ucap Prabowo saat penutupan Konbes-Mubes PBNU di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).
Prabowo menambahkan, kelas menengah yang sempat lepas dari kemiskinan pun kembali terjerumus ke garis miskin. Ia pun mengulang pernyataannya soal ketimpangan tersebut.
“Saudara-saudara katanya negara tambah kaya, kok rakyat miskin tambah terus kemudian kelas menengah berkurang?” tuturnya.
Menurut Prabowo, dari data yang ada, kesimpulannya hanya segelintir orang yang menikmati hasil pertumbuhan ekonomi tersebut. Ia menilai ada sistem yang keliru di balik fenomena ini.
“Karena apa, kalau orang miskin tambah yang menengah juga berkurang, berarti yang menikmati pertumbuhan (ekonomi) ini hanya segelintir orang saja, dan ini tidak sesuai dengan cita-cita proklamasi kita, cita-cita kemerdekaan kita, tidak sesuai dengan keinginan pendiri-pendiri bangsa kita,” ucapnya.
Prabowo menegaskan, Indonesia merdeka untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Ia berjanji akan memperbaiki sistem yang ada agar sesuai dengan sumpah jabatannya.
“Ini yang saya yakini dan ini yang akan saya kerjakan untuk saya penuhi sumpah saya kepada rakyat, untuk menjaga kepentingan rakyat sesuai dengan sumpah saya waktu saya diantik,” ucapnya.
Konbes-Munas PBNU merupakan forum musyawarah tertinggi kedua setelah Muktamar. Kegiatan yang berlangsung di Pondok Ploso pada 20-23 Juni 2026 itu diikuti sekitar 1.000 peserta dan penggembira dari seluruh Indonesia, membahas berbagai isu keagamaan, kenegaraan, dan kemasyarakatan.