Jakarta – Ekonom Ferry Latuhihin memprediksi outlook ekonomi Indonesia pada semester II tahun ini akan sangat buruk. Menurutnya, kenaikan suku bunga BI yang agresif tidak cukup mengatasi masalah utama yang sedang dihadapi.

Dalam podcast YouTube Hendri Satrio Official, Ferry menegaskan bahwa permasalahan ekonomi saat ini bukan terletak pada kebijakan moneter, melainkan pada sisi fiskal yang semakin mengkhawatirkan.

“Problem itu bukan di moneter ya, problem itu bukan di suku bunga yang terlalu rendah dibandingkan bunga The Fed ya, kan problemnya bukan di risk premium antar yield, bukan, jadi problemnya itu ada di fiskal,” kata Ferry Latuhihin.

Ia memberikan contoh yield SRBI yang mencapai 7,57 persen. Setelah dikurangi ongkos swap sebesar 2,5 persen, investor asing masih bisa mendapatkan net yield sekitar 5,1 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan imbal hasil Treasury Notes Amerika Serikat yang hanya 3,9 persen.

“Nah ongkosnya untuk swap tadi mengamankan dollarnya itu 2,5 persen, berarti dia dapet net yield itu 7,57 dikurang 2,5 berarti sekitar 5,1 persen, ini masih untung bos, dibandingkan dia invest di treasury notes satu tahun di Amerika cuma 3,9 persen. Tapi masalahnya adalah kok kenapa asing enggak masuk masih tetep keluar? Asing udah enggak percaya istilahnya dengan kondisi fiskal kita, terutama karena apa? Kita liat di bulan Mei udah naik lagi APBN deficitnya ke 180,4 triliun ya kan ya,” jelasnya.

Salah satu pemicu utama adalah defisit APBN yang kembali membengkak menjadi Rp180,4 triliun pada Mei. Di tengah situasi ini, pemerintah pun melakukan roadshow ke Cina untuk menawarkan Panda Bond demi mencari pendanaan tambahan.

Yang semakin membuat investor khawatir adalah kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tetap berjalan dengan anggaran Rp272 triliun. Padahal sebelumnya sempat muncul harapan program tersebut akan dievaluasi ulang.

“Anehnya kemarin-kemarin market agak positif ya indeks naik sampai dari 5,300 hingga 6,250 lantas sempet juga dollar walaupun intervensi besar-besaran ya kan ya, nah itu karena apa? Orang berpikir bahwa MBG ini, ini akan dimoratorium ya kan akan dievaluasi ulang akan ditargeting ya kan tapi kemarin itu yang muncul adalah pemerintah mengatakan MBG tidak di stop dan dananya untuk MBG itu Rp 272 triliun bos ini kan bakar duit yang sangat dahsyat, itulah yang menyebabkan asing kabur,” tegas Ferry.

Rating Kredit dan Ketidakpastian Pasar

Ferry pun menjelaskan, pasar saat ini juga menanti keputusan penting dari MSCI mengenai status Indonesia. Selain itu, rating dari S&P Global juga dinanti-nanti. Outlook dari Moody’s dan Fitch yang sudah berubah dari stabil menjadi negatif semakin menambah kekhawatiran.

“Ini semua ketar-ketir, kalau sampai outlook, jangan kan ratingnya, outlooknya aja kalau S&P mendowngrade dari stabil ke negatif ya dollar bisa ngacir ke 18 ribu bahwa itu reasonnya kenapa BI naikin suku bunga juga enggak efektif,” kata Ferry.

Sementara itu, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara signifikan dalam waktu singkat, dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen. Namun, Ferry menilai langkah ini belum efektif. Likuiditas perbankan mulai mengering, dengan beberapa bank kini menawarkan bunga deposito hingga 6 persen.

“Ini udah naik 1 persen loh selama sebulan terakhir ini dari 4,75 persen ke 5,25 persen 5,50 persen minggu lalu sekarang ada RDG, Rapat Dewan Gubernur naikin lagi 25 persen jadi 5,75 persen dan apa yang terjadi di pasar uang? Sekarang banyak beberapa bank yang menawarkan deposito ratenya 6 persen bos, bukan 2 persen lagi, 6 persen! Artinya bank-bank kekeringan likuiditas bos,” jelasnya.

Akibatnya, cost of fund perbankan naik dan dikhawatirkan akan membebani penyaluran kredit di masa mendatang. Jika bunga kredit naik tajam, bahkan mencapai double digit, ditambah potensi inflasi yang tinggi, situasi akan semakin runyam.

“Jadi bukan enggak mau ngomong positif soal ekonomi kita, tapi data, fakta, dan logika mengatakan bahwa outlook ekonomi kita ini sangat buruk sekali di semester 2,” pungkas Ferry Latuhihin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *