BERLIN — Stabilitas keamanan di kawasan Uni Eropa kini berada di ambang ketidakpastian besar. Kebijakan Amerika Serikat (AS) yang mulai memangkas kehadiran militernya di Benua Biru memicu kekhawatiran akan terjadinya keruntuhan sistem pertahanan Eropa dalam jangka panjang.
Laporan terbaru dari Financial Times yang mengutip sejumlah pejabat militer menyebutkan bahwa pengurangan keterlibatan AS secara drastis dapat menciptakan celah pertahanan yang membahayakan.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, pada Sabtu malam mengonfirmasi kepada RIA Novosti mengenai langkah konkret Departemen Pertahanan AS tersebut.
Ia menyatakan adanya keputusan untuk menarik 5.000 tentara Amerika dari Jerman dalam waktu 6-12 bulan.
Ketidakpastian Senjata Jarak Jauh dan Sistem Pertahanan
Tak hanya pengurangan personel, Washington juga dilaporkan tengah mengkaji ulang komitmen persenjataan strategis mereka di tanah Eropa.
Pada Minggu, Financial Times melaporkan bahwa AS juga akan mempertimbangkan kembali keputusannya untuk menempatkan satu batalion dengan senjata jarak jauh di Jerman.
Para analis menilai kebijakan spontan dari Presiden AS Donald Trump terkait penarikan aset pertahanan lainnya dapat memicu kegagalan sistemik yang sulit dipulihkan dalam waktu dekat.
Jika aset-aset vital tersebut ditarik secara mendadak, hal itu dapat menyebabkan kegagalan besar dan berbahaya dalam sistem keamanan Eropa selama bertahun-tahun mendatang.
Kesenjangan Kemampuan Militer Eropa
Kekhawatiran utama negara-negara Eropa saat ini adalah kecepatan penarikan senjata oleh Washington yang dianggap tidak sebanding dengan kesiapan Eropa dalam menciptakan sistem pengganti.
Eropa semakin khawatir bila Washington akan menarik senjatanya lebih cepat dibandingkan kemampuan Eropa untuk mengembangkan alternatif lain.
Hingga saat ini, pihak Pentagon dikabarkan masih menutup rapat informasi mendetail mengenai masa depan aset pertahanan lainnya di Eropa.
Pentagon menolak memberikan NATO jadwal terperinci tentang rencana penarikan aset pertahanan lainnya dari Eropa, termasuk sistem pertahanan udara dan rudal serta data pengintaian satelit.
Di sisi lain, upaya kemandirian militer Eropa masih terganjal kendala teknis dan birokrasi. Meskipun negara-negara Eropa memiliki sejumlah proyek rudal jelajah dan balistik, banyak yang “terhenti” di tahap desain awal.
Agenda KTT NATO di Turki
Situasi yang kian genting ini dipastikan akan menjadi fokus utama dalam pertemuan tingkat tinggi para pemimpin dunia.
Dengan mengutip beberapa pejabat Jerman, para pemimpin NATO dilaporkan akan terus membahas cara mencegah lemahnya sistem keamanan pada KTT Juli mendatang yang direncanakan berlangsung di Turki.
Sumber: ANTARA