JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak harus bergantung pada susu sebagai sumber protein hewani. Produk olahan susu seperti keju dan mentega produksi dalam negeri juga dinilai layak dipertimbangkan sebagai menu makanan dalam program tersebut karena memiliki kandungan gizi tinggi sekaligus lebih mudah didistribusikan.

Dalam podcast YouTube Hendri Satrio Official, Founder Mazaraat Artisan Cheese Muhammad Najmi atau Jemi mengatakan keju memiliki keunggulan dari sisi kepadatan nutrisi maupun daya simpan sehingga dapat menjadi salah satu pilihan menu MBG.

“Kalau ditanya lebih enak mengirim seratus liter susu atau sepuluh kilogram keju, tentu sepuluh kilogram keju. Volumenya lebih kecil, nutrisinya sama bahkan lebih tinggi. Susu murni umur simpannya hanya beberapa hari, sementara keju bisa bertahan sampai satu tahun, bahkan beberapa jenis lebih lama,” kata Najmi.

Menurut dia, keju juga dapat memberikan nilai tambah bagi susu segar yang diproduksi peternak dalam negeri, bukan hanya sebagai bahan konsumsi langsung tetapi juga menjadi produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi.

“Kalau memang kita bicara komitmen membangun gizi anak melalui MBG, pertimbangkan juga keju. Ada produk dalam negeri yang proses produksinya, standardisasinya, sampai sertifikasinya bisa dipertanggungjawabkan,” lanjutnya.

Mazaraat Artisan Cheese telah memproduksi keju artisan sejak 2015 di Yogyakarta. Sementara Naaya Artisan Butter dikembangkan Ardani Yusuf Prawira di Pamijahan, Bogor.

Ardani mengatakan produk mentega lokal juga memiliki peluang untuk berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas bahan pangan.

“Harapannya produk-produk seperti ini bisa semakin dikenal, bukan hanya sebagai produk premium, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan industri susu Indonesia,” ujar Ardani.

Selain mendorong pemanfaatan produk lokal, keduanya menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antara keju natural dan keju olahan yang banyak dijual di pasaran. Padahal, komposisi keduanya berbeda cukup jauh.

“Selama ini kita terbiasa makan keju yang sebenarnya bukan seratus persen keju. Keju komersial yang biasa dikonsumsi kandungan kejunya umumnya hanya sekitar sepuluh sampai dua puluh persen, sedangkan sisanya merupakan campuran bahan lain,” kata Ardani.

Najmi mengatakan, apabila keju maupun mentega dipertimbangkan sebagai menu MBG, maka produk yang digunakan sebaiknya merupakan produk natural yang dibuat 100 persen dari susu, sehingga kandungan gizi yang diterima anak-anak tetap optimal.

“Kalau ada klaim seratus gram keju setara satu liter susu, klaim itu hanya bisa disematkan pada keju natural yang benar-benar diproduksi dari susu, bukan yang dicampur tepung. Jadi kalau nanti keju atau mentega masuk sebagai menu MBG, yang digunakan sebaiknya memang produk yang seratus persen berasal dari susu,” ujar Najmi.

Di sisi lain, ia berharap program MBG dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri pengolahan susu nasional. Menurutnya, manfaat tersebut tidak hanya dirasakan produsen keju, tetapi juga peternak sapi perah dan koperasi susu di berbagai daerah.

“Kalau ada goodwill untuk mengembangkan susu domestik, peternak tidak hanya bergantung menjual susu mentah. Mereka bisa sampai ke pengolahan, sampai menghasilkan produk yang punya nilai tambah,” kata Najmi.

“Tujuan kami sederhana, bagaimana volume produksi Indonesia bisa mencapai skala ekonomi. Baru setelah itu kita bisa benar-benar bersaing dengan produk impor,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *