JAKARTA — Pengamat politik Hendri Satrio menilai pembekalan yang diberikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya kepada para taruna Akademi Militer menjadi kesempatan bagi publik untuk melihat perjalanan Teddy secara lebih utuh.

Menurut Hensa, sapaan akrabnya, selama ini sosok Teddy lebih banyak dikenal karena keberadaannya di sekitar Presiden Prabowo Subianto. Akibatnya, perhatian publik kerap tertuju pada kedekatan dan posisi strategisnya di pemerintahan, bukan pada proses yang telah dilaluinya.

“Menurut saya ini bagus, karena selama ini Teddy lebih banyak dikenal publik sebagai orang yang berdiri di belakang Presiden Prabowo. Nah, melalui pembekalan ini, dia seperti ingin mengatakan bahwa dirinya tidak tiba-tiba ada di posisi itu,” kata Hensa kepada wartawan.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu pun mengatakan, jabatan Teddy sebagai Sekretaris Kabinet tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjangnya di lingkungan militer.

Diketahui, ia pernah menjalani pendidikan sebagai taruna, bertugas di Kopassus, serta mengikuti berbagai pendidikan sebelum dipercaya bekerja di lingkaran pemerintahan.

“Ada proses panjang yang dia lalui, mulai dari menjadi taruna, bertugas di Kopassus, mengikuti berbagai pendidikan, sampai sekarang dipercaya menjadi Sekretaris Kabinet,” ujarnya.

Ia menilai pengalaman tersebut relevan untuk dibagikan kepada para taruna.

Sebab, para taruna perlu memperoleh gambaran bahwa perjalanan menuju suatu jabatan maupun kepercayaan tidak berlangsung secara instan.

“Cerita seperti ini penting disampaikan kepada para taruna, supaya mereka tahu bahwa karier dan kepercayaan itu tidak datang dalam semalam,” katanya.

Hensa juga menilai Teddy perlu lebih sering berbicara dalam forum yang memungkinkan masyarakat mengetahui pemikiran dan pengalamannya.

Menurutnya, selama ini Teddy relatif jarang menyampaikan pandangannya secara langsung di ruang publik.

Akibatnya, pembicaraan mengenai Teddy lebih sering berkaitan dengan jabatan yang diembannya dan kedekatannya dengan Presiden Prabowo daripada gagasan maupun cara kerjanya sebagai pejabat.

“Dan menurut saya, Teddy memang perlu lebih sering muncul dalam forum seperti ini. Bukan untuk pencitraan, tetapi agar publik juga mengenal siapa dia, bagaimana cara berpikirnya, dan pengalaman apa yang membentuknya,” ujarnya.

“Akibatnya, orang lebih sering membicarakan jabatan dan kedekatannya dengan Presiden, sementara Teddy sendiri relatif jarang bercerita,” lanjutnya.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa perjalanan karier dan pengalaman pribadi tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran dalam menilai seorang pejabat.

Menurut dia, keterbukaan mengenai latar belakang Teddy dapat memberikan konteks kepada publik.

“Tapi tentu saja, cerita perjalanan hidup tidak cukup. Setelah publik mengetahui siapa Teddy, berikutnya publik akan bertanya: apa yang sudah dan akan dia kerjakan sebagai Sekretaris Kabinet?” katanya.

Ia mengatakan, pembekalan di Akademi Militer dapat menjadi ruang bagi Teddy untuk memperkenalkan perjalanan serta nilai-nilai yang membentuk dirinya.

Namun, setelah itu, publik tetap akan menunggu hasil kerja Teddy dalam menjalankan tugasnya di pemerintahan

“Jadi, momen ini bagus untuk memperkenalkan dirinya, tetapi pembuktian akhirnya tetap melalui kinerja,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *