JAKARTA — Pengamat politik Rocky Gerung menilai seorang bawahan tidak seharusnya takut menyampaikan koreksi kepada Presiden apabila terdapat informasi yang perlu segera diluruskan.

Pandangan itu disampaikan Rocky ketika membahas sikap Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dalam mendampingi Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Rocky, posisi Presiden tidak semestinya menciptakan jarak hierarki yang membuat orang-orang di sekitarnya memilih diam ketika melihat sesuatu yang perlu segera dikoreksi.

“Justru setara si Teddy itu sama Presiden. Dia bilang, masa dia mau tunggu? Gini Pak, ini urgen ada data yang salah. Gini Pak, salah itu,” kata Rocky dalam video yang diunggah akun Instagram @kerjaseskabri.

Rocky menilai, keberanian seperti itu justru penting dalam hubungan kerja antara seorang pemimpin dan bawahannya.

Bagi dia, ada situasi ketika kecepatan menyampaikan informasi lebih diperlukan dibandingkan mempertahankan tata hubungan yang terlalu kaku karena perbedaan jabatan.

Salah satu contoh yang disinggung Rocky adalah ketika Teddy menggeser mikrofon Prabowo saat Presiden tengah memimpin rapat terbatas penanganan bencana pada 7 September 2026.

Dalam rapat di Istana Merdeka tersebut, pemerintah membahas sejumlah bencana yang terjadi di Indonesia, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta persoalan asap.

Saat pembahasan mengenai karhutla berlangsung, Teddy terlihat menggeser mikrofon di hadapan Prabowo untuk menyampaikan sesuatu kepada Presiden. Momen tersebut kemudian menjadi pembahasan karena gestur Teddy dinilai sebagian pihak kurang sopan.

Rocky justru melihatnya dari sudut pandang berbeda.

Menurut dia, tindakan semacam itu tidak serta-merta dapat dinilai sebagai bentuk ketidaksopanan. Urgensi informasi yang hendak disampaikan, kata Rocky, juga perlu diperhitungkan.

“Bukan enggak sopan, urgensi itu,” ujarnya.

Rocky kemudian menghubungkan persoalan tersebut dengan budaya feodalisme. Ia menilai jarak yang terlalu kaku antara seorang pemimpin dan bawahannya justru dapat membuat seseorang enggan mengambil inisiatif.

“Teddy pindahin mic-nya Presiden, ditegur. ‘Enggak sopan’. Loh, justru Teddy menerobos feodalisme,” kata Rocky.

Menurut Rocky, anggapan bahwa seorang bawahan harus selalu menunggu atau tidak boleh melakukan koreksi secara langsung menunjukkan kuatnya cara pandang hierarkis terhadap kekuasaan.

Ia mengatakan prinsip kesetaraan justru berlawanan dengan budaya feodal yang menempatkan seseorang secara berbeda berdasarkan kedudukannya.

“Padahal feodalisme itu bagian dari yang dimusuhi oleh sosialisme. Kesetaraan manusia, kita feodalis,” ucapnya.

Karena itu, Rocky mempertanyakan kritik terhadap seseorang yang mengambil inisiatif ketika menghadapi situasi yang menurutnya mendesak.

“Begitu ada seseorang mengambil inisiatif tentang ini urgensi, ini saya enggak peduli dengan hierarki,” katanya.

Rocky juga menyinggung pihak yang disebutnya sebagai “buzzer”. Menurut dia, terdapat kontradiksi ketika feodalisme ditolak, tetapi tindakan yang menerobos batas hierarki justru dipersoalkan.

“Jadi bagaimana buzzer ini di satu pihak membenci sosialisme, feodalisme. Tapi begitu ada seseorang mengambil inisiatif tentang ini urgensi, ini saya enggak peduli dengan hierarki,” ujar Rocky.

Ia kemudian menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk kontradiksi dalam budaya masyarakat ketika berhadapan dengan relasi kekuasaan.

“Jadi bayangin kemunafikan kultural bangsa ini,” kata Rocky.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *