JAKARTA – Lagu “Naik, Naik, BBM Naik,” kembali terdengar usai dinyanyikan oleh para mahasiswa saat aksi demonstrasi di Jakarta dalam sepekan terakhir.
Lagu tersebut merupakan gubahan dari lagu anak-anak populer berjudul “Naik, Naik ke Puncak Gunung” yang liriknya diganti sesuai dengan keadaan masyarakat saat ini.
Sejarahnya, lagu gubahan ini pertama kali dipopoulerkan oleh Habib Rizieq Shihab medio 2017 silam saat berceramah di depan jamaahnya. Liriknya sengaja dipelesetkan oleh Rizieq Shihab untuk mengkritik kenaikan harga BBM serta dampaknya terhadap kebutuhan sehari-hari.
“Naik, naik, BBM naik. Tinggi, tinggi sekali. Naik, naik, pajak pun naik. Tinggi, tinggi sekali. Naik, naik, listrik pun naik. Tinggi, tinggi sekali. Naik, naik, cabai pun naik. Tinggi, tinggi sekali. Kiri-kanan kulihat saja banyak rakyat sengsara. Kiri-kanan kulihat saja banyak rakyat sengsara,” begitu bunyi lirik dari lagu plesetan tersebut.
Kini, lagu tersebut kembali terdengar di aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta sepekan terakhir. Lagu tersebut dinyanyikan menyusul kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamax di tengah ekonomi yang sedang tidak stabil.
Pengamat politik Hendri Satrio (Hensa) mengingatkan pemerintah untuk tidak acuh terhadap pesan-pesan yang disampaikan oleh masyarakat baik secara langsung mau pun tidak langsung, termasuk dari lagu gubahan tersebut.
“Ada syair lagu yang dipopulerkan oleh seorang pemimpin agama ternama yang sayup-sayup mulai kembali terdengar, terakhir di demo Mahasiswa belakangan ini, menurut saya pemerintah harus menangkap ini sebagai sinyal bahwa masyarakat mulai merasa ekonomi saat ini semakin menekan mereka,” ujar Hensa kepada wartawan.
Hensa pun berpendapat, lagu gubahan itu memiliki pesan yang kuat yaitu menggambarkan realita yang saat ini dihadapi oleh rakyat, mulai dari kesulitan mereka hingga sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sehingga, pemerintah pun tidak boleh acuh terhadap pesan yang rakyat coba sampaikan dari lagu tersebut.
“Penguasa, pemerintah, gak boleh menganggap remeh isi pesan yang ada di syair itu, karena mereka mengucapkan tentang kenyataan hari ini, tentang BBM, harga BBM yang naik, tentang tarif listrik yang naik, tentang harga cabai yang naik, tentang ada rakyat yang sengsara. Jadi, jangan diremehkan syairnya, karena kuat sekali pesannya,” kata Hensa.