JAKARTA – Pengamat politik Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensa menilai pidato Presiden Prabowo Subianto soal Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal atau KEM-PPKF RAPBN 2027 menjadi momen penting untuk membangkitkan kembali kepercayaan publik terhadap arah perekonomian Indonesia.
Hensa berharap pidato tersebut mampu menghadirkan gairah baru di tengah kondisi ekonomi yang tengah berupaya pulih. Namun, ia menyertakan satu catatan serius yang ia anggap tak kalah penting dari substansi pidato itu sendiri.
“Ini pidato Pak Prabowo yang akan disampaikan di DPR, diharapkan bisa membuat gairah baru dalam ekonomi Indonesia dan membuat gairah perbaikan terhadap ekonomi Indonesia muncul lagi,” ujar Hensa kepada wartawan.
Hensa tidak mempersoalkan konten utama pidato, namun yang ia soroti adalah kebiasaan Prabowo berbicara secara spontan atau impromptu di luar naskah, sebuah gaya komunikasi yang selama ini menjadi ciri khas Presiden ketika berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Menurutnya, gaya santai dan humoris Prabowo memang bukan hal baru. Ia melihat Presiden dekat dengan rakyat dan kerap bercanda dalam berbagai kesempatan.
Namun dalam konteks pidato yang menyangkut kondisi ekonomi nasional, Hensa menilai hal itu perlu ditahan agar tak menimbulkan banyak persepsi publik.
“Apa pun yang diucapkan oleh Kepala Negara, baik itu maksudnya motivasi atau bercanda, tapi pada saat dibicarakan dengan kalimat-kalimat yang bisa diartikan bersayap, maka efek domino dari pesan komunikasi yang disampaikan Presiden itu bukan saja bersayap, tapi bisa menjadi jutaan sayap karena bisa jadi banyak sekali persepsi publik yang ditimbulkan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa dalam situasi di mana kepercayaan pasar dan masyarakat tengah diupayakan untuk dipulihkan, konsistensi pesan dari seorang Presiden menjadi sangat krusial.
Sebab, menurutnya, setiap diksi yang keluar dari mulut kepala negara akan dianalisis, dikutip ulang, dan ditafsirkan oleh berbagai pihak, mulai dari pelaku pasar, investor, hingga masyarakat umum.
“Untuk itu, saya menyarankan agar Pak Prabowo tidak lagi bicara hal yang impromptu atau keluar secara spontan, karena pesan kepala negara ini sangat berpengaruh untuk banyak pihak,” ujar Hensa.
Karenanya, Hensa berharap tim komunikasi kepresidenan dan Prabowo sendiri lebih berhati-hati dalam menyiapkan narasi pidato kali ini. Menurutnya, ini bukan soal membatasi Prabowo untuk tampil apa adanya, melainkan soal memilih momen yang tepat antara keakraban dan ketegasan pesan.
“Pak Prabowo memang dikenal senang bercanda dan ngobrol langsung sama rakyat, dan itu sisi positif beliau. Tapi kalau konteksnya sedang berbicara soal ekonomi, dalam kondisi kita sedang berjuang memperbaiki keadaan, ucapan spontan yang terlalu sering justru bisa mengaburkan pesan utama yang ingin disampaikan,” katanya.