Dua Tahun Danantara, Fokus Konsolidasi BUMN Hingga Targetkan Perusahaan Lebih Sehat dan Kompetitif

Kepala BP BUMN dan COO Danantara, Dony Oskaria, saat menghadiri acara "Execuitve Breakfast Meeting: Dua Tahun Danantara" yang diselenggarakan oleh IKA FIKOM UNPAD (2/10). (Foto: Mardi/RP)

JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mencatat sejumlah capaian sejak mulai beroperasi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu fokus utamanya adalah konsolidasi dan transformasi badan usaha milik negara (BUMN) agar lebih sehat, profesional, serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, dalam IKA FIKOM UNPAD Executive Breakfast Meeting bertajuk “Dua Tahun Danantara.”

Dony menegaskan, Danantara berkomitmen menerapkan tata kelola dan transparansi dalam pengelolaan investasi.

“Danantara perusahaan paling transparan. Kalau ragu transparansi Danantara silakan cek,” kata Dony di The Opus Grand Ballroom, The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat, 2 Oktober 2026.

Menurutnya, konsolidasi BUMN dilakukan untuk memastikan perusahaan negara dikelola dengan standar tata kelola perusahaan internasional. Investasi yang dilakukan Danantara, kata dia, juga bersumber dari laba BUMN.

Dony mengatakan, pembenahan BUMN menjadi penting karena masih terdapat persoalan mendasar dalam struktur dan kinerja perusahaan negara. Pemerintah, menurutnya, perlu melakukan perubahan secara menyeluruh dan tidak menunda proses restrukturisasi.

“Bagi kami, kita mau lakukan perubahan sekarang atau tidak sama sekali,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebelumnya terdapat 1.074 entitas yang dikategorikan sebagai BUMN. Namun, angka tersebut muncul karena persoalan definisi dan struktur kepemilikan.

Dari proses penataan tersebut, sekitar 52 persen perusahaan berada dalam kondisi merugi. Karena itu, Danantara mendorong konsolidasi agar pengelolaan BUMN lebih efisien dan menghasilkan kontribusi yang lebih besar.

“Mending kita kelola delapan saja tapi labanya besar. Ini akibat tidak ada konsolidasi,” katanya.

Dony menuturkan, arah pembenahan BUMN bukan sekadar mengurangi jumlah perusahaan, melainkan membangun konglomerasi bisnis yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.

Dalam proses restrukturisasi, Danantara terlebih dahulu mendesain model bisnis setiap perusahaan dengan melihat kondisi pasar serta kapabilitas, termasuk kemampuan finansial. Dari pemetaan tersebut, perusahaan yang tidak memiliki prospek dan justru menjadi beban dapat dilikuidasi, sementara perusahaan lain dapat didivestasi, dikonsolidasikan, atau direstrukturisasi sesuai kebutuhan.

“Kalau ini dilakukan, perusahaan kita sehat dan bisa berkontribusi,” kata Dony.

Ia menambahkan, Danantara tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga pertumbuhan. Transformasi BUMN harus dibarengi perubahan budaya kerja menuju perusahaan yang profesional sekaligus mampu mendukung agenda pemerintah.

“Kita mau mengubah culture sehingga perusahaan itu profesional dan mendukung government,” tuturnya.

Menurut Dony, seluruh proses transformasi tersebut harus berjalan dengan tata kelola yang baik agar menghasilkan perusahaan negara yang sehat dan kompetitif. Ia memiliki waktu hingga 2029 untuk menjalankan agenda tersebut sehingga setiap tahapan pembenahan harus memberikan hasil maksimal.

“Saya mungkin sampai 2029, maka itu harus menghasilkan sesuatu yang maksimal,” pungkasnya.

Kegiatan Executive Breakfast Meeting tersebut turut dihadiri Ketua IKA FIKOM UNPAD Hendri Satrio (Hensa), Eks Kepala BNPT Boy Rafli Amar, dan Dekan Fikom Unpad Nindi Aristi. Kegiatan ini didukung MIND ID, Pupuk Indonesia, dan Pertamina Patra Niaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *