JAKARTA – Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Negeri Saint Petersburg, Rusia, Connie Rahakundini Bakrie menyatakan kekhawatirannya terhadap pembukaan fasilitas Maintenance Repair Overhaul (MRO) di Bandara Kertajati, Majalengka.

Menurutnya, fasilitas tersebut berpotensi tidak sekadar menjadi bengkel perawatan pesawat, melainkan bisa berkembang menjadi basis militer asing yang terselubung.

“Dengan dibukanya MRO (Maintenance Repair Overhaul) di Bandara Kertajati, gue khawatirnya itu bukan cuma MRO aja sih,” ujar Connie dalam podcast YouTube Hendri Satrio Official.

Connie menilai Presiden Prabowo Subianto sedang berupaya menyeimbangkan posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang semakin rumit.

“Gue rasa sih, kalau Pak Prabowo mungkin melihat situasi dunia yang… Gini loh, aku lihat Pak Prabowo tuh mencoba bermain di banyak kaki. Dia mencoba menyeimbangkan. Indonesia kan nggak boleh jadi negara satelit siapa pun. Itu hal yang baik,” ujar Connie.

Namun, ia tetap menyampaikan catatan kritis terkait kebijakan tersebut. Menurut Connie, pembukaan MRO di Bandara Kertajati perlu diawasi ketat karena letaknya yang strategis.

“Yang gue khawatirkan, sekarang Selat Malaka itu jauh lebih seksi daripada Selat Hormuz. Nah ini kan tiba-tiba kita punya Malaka, tiba-tiba mereka minta blanket overflight. Yang kapal terbang mereka bisa lewat. Terus kemudian ada MRO ini, yang di bandara segede itu, Kertajati,” katanya.

Ia membandingkan situasi tersebut dengan beberapa kasus sebelumnya yang melibatkan tekanan Amerika Serikat. Connie menyebutkan contoh perubahan aturan di Terusan Panama akibat tekanan terhadap kejaksaan agung negara tersebut, serta berbagai tindakan terhadap Iran.

“Yang gue khawatir, jangan sampai itu dijadikan base tertutup atau pangkalan militer. Ya mungkin nggak mau dibilang pangkalan militer, karena kita juga nggak mau disebut begitu, atau kayak Area 51 gitu,” imbuhnya.

Connie menambahkan, Indonesia harus sangat berhati-hati mengingat posisinya yang strategis. Jika terjadi eskalasi di Laut China Selatan atau Taiwan, Indonesia berpotensi menjadi lokasi yang paling dekat dan rentan.

“Jadi kontrol kita mesti penuh terhadap itu dan keterbukaan dari pemerintah mesti ada,” tegas Connie Bakrie.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *