TEL AVIV — Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan dengan sanksi keras bahwa kekuatan militer negaranya sama sekali tidak akan menarik mundur pasukan dari kawasan Lebanon selatan.

Komitmen itu tetap ia pegang teguh, bahkan seandainya tuntutan atau desakan tersebut datang langsung dari sekutu utamanya, Amerika Serikat (AS).

Pernyataan yang memicu sorotan internasional itu dilontarkan oleh Katz saat dirinya menghadiri perhelatan MUNI EXPO 2026, sebuah forum konferensi sektor pemerintahan daerah sekaligus eksibisi inovasi yang diselenggarakan di Tel Aviv, pada Rabu (24/6/2026).

Dalam forum tersebut, Katz juga menggarisbawahi kebijakan ketat pemerintahannya yang tidak akan mengizinkan sekitar 200.000 warga Lebanon, yang sebelumnya terpaksa dievakuasi dari wilayah permukiman di Lebanon selatan, untuk kembali ke kediaman mereka. Ia berdalih bahwa keputusan mengosongkan wilayah tersebut murni diambil demi proteksi dan alasan keamanan.

“Di zona keamanan sebelumnya, yang juga dihuni warga sipil, terdapat alat peledak dan serangan yang ditujukan kepada tentara Israel. Karena itu, sekarang kami tidak mengizinkan hal tersebut terjadi,” ujar Katz.

Ia menambahkan bahwa kendali wilayah sepenuhnya akan tetap berada di bawah pengawasan angkatan bersenjata mereka guna memutus potensi ancaman di area perbatasan.

“Tentara tetap berada di dalam, warga sipil di luar. Infrastruktur telah hancur, rumah-rumah dalam kondisi rusak dan membahayakan. Kami tidak akan mundur,” tegasnya.

Ribuan Roket Sasar Wilayah Israel

Di tempat yang sama, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar memaparkan data mengenai intensitas serangan yang mereka terima dari kelompok militan seberang batas.

Sa’ar mengungkapkan bahwa sejak bulan Maret tahun ini, pihak Hizbullah tercatat telah meluncurkan lebih dari 7.000 roket, rudal, hingga pesawat tanpa awak (drone) dari wilayah Lebanon ke arah teritorial Israel.

Sebagai informasi, konfrontasi bersenjata berskala besar antara Israel dan Hizbullah kembali meletus sejak medio Maret lalu. Merespons ketegangan itu, Israel melancarkan operasi serangan udara dan darat secara masif ke arah Lebanon selatan.

Berdasarkan rilis data resmi otoritas pemerintah Lebanon, eskalasi militer tersebut dilaporkan telah merenggut lebih dari 4.000 nyawa.

Sebenarnya pada pekan lalu, kedua belah pihak yang bertikai sempat mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata demi meredam jatuhnya korban lebih lanjut.

Kendati demikian, meski jajaran pemerintah Lebanon sudah berulang kali mendesak pihak Tel Aviv untuk mengosongkan wilayah dan menarik mundur serdadunya, militer Israel hingga detik ini tetap memilih mempertahankan eksistensi persenjataan dan barisan pasukannya di jantung Lebanon selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *