JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah mengkaji kemungkinan untuk mendatangkan armada Kereta Rel Listrik (KRL) impor dari Jepang. Langkah ini disiapkan guna merespons tingginya kebutuhan sarana kereta bagi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
Hal tersebut diutarakan oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, di acara Executive Breakfast Meeting bertajuk “Dua Tahun Danantara” yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (IKA FIKOM UNPAD).
Opsi pengadaan dari luar negeri ini mencuat akibat kapasitas produksi manufaktur kereta dalam negeri, PT INKA, yang dinilai masih belum memadai, meskipun proses transformasi di internal perusahaan tersebut terus dipacu.
Dony memaparkan bahwa penambahan armada KRL saat ini dalam kondisi krusial. Kebutuhan mendesak ini sejalan dengan proyek elektrifikasi jalur kereta api untuk rute Jakarta-Cikampek, Jakarta-Sukabumi, hingga Jakarta-Merak.
“Betul, makanya proses transformasi INKA ini kan sedang berjalan, ya. Tapi kapasitas produksi mereka kan juga sangat terbatas, kan? Jadi ada pilihan-pilihan yang harus kita buat nih,” ujar Dony Oskaria di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Saat ini, Danantara terus berupaya menghitung dan menyeimbangkan lonjakan kebutuhan operasional KAI dengan proyeksi kemampuan produksi lokal sebelum mengeksekusi langkah pengadaan dari luar negeri.
“Nah, kita balance-kan antara kebutuhannya dengan kapasitas produksinya INKA. Sisanya, itu yang akan kita lakukan alternatif,” kata Dony Oskaria.
Sebagai tindak lanjut dari wacana impor armada transportasi publik tersebut, pihak Danantara telah menjadwalkan agenda pembahasan khusus dengan Kementerian Perhubungan.
“Hari ini harusnya saya ada pertemuan dengan Pak (Menhub). Ini hari Jumat, kan ya? Iya. Harus nya ada pertemuan dengan Pak Menhub untuk berdiskusi berkait dengan itu,” ujar Dony.
Pertemuan bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi ini ditujukan untuk membedah secara komprehensif terkait efisiensi anggaran serta dampak positif dari kebijakan impor bagi percepatan layanan transportasi massal di Tanah Air.
“Nanti kan penjelasan bagaimana kan kita mesti melihat cost and benefit-nya, ya. Mana keuntungannya berapa, apa yang kita dapatkan dari situ, karena kan percepatan daripada transportasi publik kita juga, kan? Tapi nanti akan kita diskusikan dengan Pak Menhub,” kata Dony.
KAI Butuh Trainset Tambahan
Sebagai informasi, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin sebelumnya telah membawa usulan pengadaan 23 rangkaian (trainset) KRL bukan baru asal Jepang dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI, dan usulan tersebut telah mengantongi persetujuan.
Langkah penambahan sarana yang terdiri atas 7 trainset berformasi 12 kereta (SF12) dan 16 trainset berformasi 8 kereta (SF8) ini disiapkan untuk mengakomodasi lonjakan volume penumpang KRL di kawasan Jabodetabek, yang tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 11,3 persen pada semester pertama tahun 2026.
Baca juga: Pangkas Drastis, Danantara Sisakan 200 BUMN di Akhir Tahun