JAKARTA – Pengamat politik Hendri Satrio menyarankan Presiden Prabowo Subianto memilih lebih banyak menteri yang memiliki pola kerja seperti Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.
Menurut Hensa, sapaan akrabnya, Teddy menjadi salah satu figur di lingkaran pemerintahan Prabowo yang dinilai bekerja tanpa terlalu banyak membangun pencitraan. Ia melihat Teddy justru lebih banyak tampil ketika pemerintah membutuhkan penyelesaian maupun penjelasan atas suatu persoalan.
“Kalau menurut saya, hari ini Prabowo perlu lebih banyak memilih menteri yang pola kerjanya seperti Teddy. Teddy itu pekerja. Dia benar-benar kerja, enggak banyak pencitraan kerjanya. Yang kelihatan justru dia sibuk bekerja, menyelesaikan persoalan, dan ketika pemerintah membutuhkan orang untuk maju memberikan penjelasan, dia ada di situ,” kata Hensa dalam keterangannya kepada wartawan.
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu mengatakan, kesan Teddy sebagai figur yang sibuk bekerja bahkan turut muncul dalam percakapan di kalangan generasi muda.
Menurutnya, sejumlah tokoh politik saat ini kerap mendapatkan label tertentu dari Gen Z berdasarkan citra yang melekat kepada mereka di ruang publik.
“Di kalangan Gen Z itu kan ada sebutan-sebutan. Ganjar misalnya identik dengan olahraga, sibuk lari-lari. Anies disebut pengangguran, Gibran disebut kosong. Nah, Teddy itu justru disebut sibuk kerja. Menurut saya ini menarik, karena bahkan anak-anak Gen Z mengakui bahwa simbol orang yang sibuk bekerja di pemerintahan hari ini salah satunya Teddy,” ujar Hensa.
Karena itu, ia menilai Prabowo membutuhkan lebih banyak pembantu yang memiliki karakter serupa, yakni lebih banyak bekerja ketimbang membangun citra pribadi.
“Intinya Prabowo butuh lebih banyak menteri seperti Teddy. Lebih banyak kerja, enggak banyak pencitraan, sibuk menyelesaikan pekerjaan. Kalau sampai anak-anak Gen Z saja melihat Teddy sebagai simbol orang yang sibuk kerja, berarti memang ada persepsi publik yang terbentuk dari apa yang mereka lihat selama ini,” katanya.
Hensa juga menilai Teddy menjadi salah satu figur di lingkaran pemerintahan Prabowo yang kerap tampil untuk memberikan penjelasan dan memasang badan ketika muncul persoalan yang seharusnya dapat dijelaskan oleh kementerian terkait.
“Kalau menurut saya, menteri-menterinya Prabowo dan Pak Prabowo itu harus berterima kasih dengan orang yang namanya Teddy. Walaupun orang banyak yang nyinyir, iri, cuma ini orang sering banget saya lihat pasang badan buat menteri-menterinya Prabowo,” kata Hensa.
Ia mencontohkan bagaimana Teddy beberapa kali harus memberikan penjelasan mengenai isu yang sebenarnya berada dalam ranah kementerian lain.
Menurutnya, Teddy kerap mengambil peran ketika masyarakat membutuhkan penjelasan terkait program-program pemerintah yang semestinya dapat dijawab langsung oleh pejabat terkait.
“Misalnya lagi MBG yang masuk ke dana pendidikan. Harusnya kan Menteri Pendidikan yang ngomong. Ini enggak, dia yang ngomong. Teddy ngomong, ‘Jadi begini, itu sudah disepakati oleh DPR bahwa anggaran pendidikan itu ada, anggaran MBG ada dalam anggaran pendidikan.’ Habis itu dia yang dibully, kan. Menteri-menterinya memang makasih? Enggak. Tapi dia ya sudah, dia tenang saja,” ujar Hensa.
Karena itu, ia berpandangan Prabowo membutuhkan lebih banyak pembantu yang berani mengambil tanggung jawab komunikasi dan bekerja untuk memastikan Presiden tidak terus-menerus menanggung sendiri beban politik dari berbagai persoalan pemerintah.
“Ya, mungkin buat dia yang penting Prabowo aman. Jadinya, ya mustinya Prabowo punya menteri yang lebih banyak lagi yang kayak Teddy. Orang yang ketika ada pekerjaan ya kerja, ketika ada masalah ya maju, bukan malah sibuk menjaga pencitraannya sendiri,” katanya.
Di sisi lain, Hensa melihat adanya kesenjangan kualitas antara Presiden dan beberapa menterinya. Kondisi itu, menurutnya, turut terlihat dari lemahnya komunikasi pemerintah ketika menghadapi masalah.
“Saya menyebut tiga masalah besar di pemerintahan Pak Prabowo itu adalah ekonomi, hukum, dan komunikasi. Komunikasinya parah sekali, tidak seperti zaman Jokowi. Dan menurut saya salah satu hal yang harus segera diperbaiki adalah gap kualitas antara Prabowo dengan tim di bawahnya, menteri-menterinya,” ujar Hensa.
Ia bahkan menilai perombakan kabinet menjadi salah satu langkah yang perlu dipertimbangkan Prabowo. Ia menyebut pergantian menteri sebagai langkah taktis paling awal untuk memperbaiki kinerja pemerintah.
“Ganti menterinya itu nomor satu. Di hukum, di ekonomi, atau di politik, itu harus diganti semua,” kata Hensa.
Menurut dia, Prabowo tidak perlu terlalu terikat pada kepentingan pembagian kursi apabila hal tersebut justru menghambat efektivitas pemerintahan.
Ia berpandangan Presiden seharusnya memilih orang-orang yang memiliki loyalitas sekaligus kemampuan bekerja dan berkomunikasi langsung dengannya.
“Menurut saya, tidak perlu Prabowo memaksakan harus bagi-bagi kursi, semuanya happy. Mendingan Pak Prabowo pilih menteri-menteri yang memang loyal sama dia, bisa kerja sama dia, dan menterinya juga bisa ngobrol sama dia. Jadi kan enak. Pemerintahan juga bisa lebih cepat bergerak,” ujarnya.
Ia menilai terlalu banyaknya persoalan yang akhirnya ditanggung langsung oleh Prabowo justru dapat merugikan Presiden secara politik. Hensa membandingkannya dengan era pemerintahan sebelumnya, ketika kesalahan atau kontroversi kebijakan tidak selalu langsung dibebankan kepada presiden.
“Menurut saya hebatnya Prabowo saat ini, tapi juga sekaligus kekurangannya, dia terlalu banyak pasang badan atas kekurangan menteri-menterinya. Jadi pada saat rakyat marah, rakyat kesel, yang disalahin Prabowo, bukan menterinya. Makanya dia butuh lebih banyak orang yang memang bisa bekerja dan ikut menjaga pemerintahannya, bukan justru menambah beban Presiden,” pungkasnya. (*)