JAKARTA – Budayawan sekaligus peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mohamad Sobary, mengkritik pendekatan analis komunikasi politik Hendri Satrio (Hensa) yang dinilai terlalu halus saat membahas kasus yang melibatkan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan keluarganya di sebuah podcast.

Menurut Sobary, Hensa berhenti pada solusi teknis birokrasi sehingga gagal mendorong upaya penegakan hukum yang tegas, padahal penyelesaian politik harus berbasis tindakan hukum.

“Bung Hensa itu memang sempurna membicarakan perkara politik hari ini, tapi beliau itu sampai di puncak. Saya menyebut Bung Hensa sudah sampai di puncak. Tapi ini bukan puncak, itu anda mengulangi Tragedi Sisyphus, anda sudah sampai di puncak tapi sebenarnya Anda menggelundung,” kata Sobary di tayangan YouTube channel AnakBangsaChannnel_Official.

Sobary menilai penekanan Hensa pada perbaikan teknis seperti usulan administratif mengalihkan perhatian dari tuntutan penegakan hukum yang lebih mendesak.

Dalam pandangannya, Hensa seharusnya mendorong jalur hukum yang konkret alih-alih memberikan rekomendasi yang bersifat birokratis dan temporer. Pendekatan yang terlalu hati-hati, kata Sobary, berisiko membuat isu utama tetap tidak terselesaikan.

“Bung Hendri, Bung Hensa, jangan bilang itu susah, ini susah, dan anda sampai puncak. Itu puncaknya hanyalah menyelesaikan perkara teknis birokrasi, teknis technicality mengenai hal-hal yang sepele. Itu bukan penyelesaian politik, itu pembentukan yang sifatnya birokratik. Dan anda meninggalkan agenda politik begitu penting bagi republik,” ujar Sobary.

Ia juga menyorot gaya retoris Hensa yang menurutnya berhenti pada kesimpulan intelektual tanpa merumuskan langkah hukum konkret.Ia meminta para pengamat politik dan kebijakan publik termasuk Hensa untuk mengambil posisi lebih tegas demi mendorong proses hukum berjalan.

“Yang diminta sekarang ini political solution. Birokratik alternatif itu penting, tapi the most important thing ialah bagaimana si anak Jokowi ini dituntut secara hukum,” kata Sobary.

Sobary pun mengajak agar para pengamat dan intelektual tidak hanya memberi analisis teknis, tetapi juga berperan dalam mendorong penanganan hukum yang nyata.

“Bung Hensa, tidak ada kata sulit. Dan jangan Bung Hensa lari pada zaman ini hanya menempuh suatu birokratik teknikalitis sebagai solusi untuk bangsa. Itu bukan solution. The central of solution is the political solution,” pungkas Sobary.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *