JAKARTA – Pengamat politik Hendri Satrio atau akrab disapa Hensa melihat Sekretaris Kabinet Letkol (Inf) Teddy Indra Wijaya cukup cerdas dalam merawat jaringan serta mengkonsolidasi kekuatan di internal angkatannya. Manuver ini dinilai sebagai langkah strategis jangka panjang yang dikemas rapi melalui sebuah momen keakraban.

Hal tersebut disampaikan Hensa merespons pesan solidaritas Teddy saat menghadiri reuni dan syukuran 15 tahun Akademi TNI-Polri Angkatan 2011 (Rilastaka) di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Dalam momen yang diunggah di akun Instagram @Teddy_HQ pada Minggu (2/8/2026) itu, Teddy meminta rekan seangkatannya dari matra Darat, Laut, Udara, dan Kepolisian untuk saling mendukung, terutama jika kelak ada di antara mereka yang memimpin republik ini.

“Menarik ya melihat gaya Letkol Teddy ini. Di saat banyak elite politiik pusing cari panggung, pasang baliho di mana-mana, dan tebar janji buat nyari dukungan, Seskab Teddy justru ngasih masterclass gimana cara bangun loyalitas yang sesungguhnya, yaitu mulai dari jaringan yang ia kenal sendiri alias teman angkatannya” kata Hensa.

Dalam pandangan pendiri lembaga survei KedaiKOPI tersebut, Teddy sangat sadar bahwa kekuatan aparat dan birokrasi di masa depan perlahan berganti ke angkatan yang lebih muda, seperti angkatannya di Akmil 2011.

Alih-alih membiarkan rekan-rekannya terjebak dalam ambisi individual atau sikut-sikutan mengejar pangkat, Seskab Teddy justru menyatukan mereka agar berjuang bersama tanpa perlu transaksi politik.

“Lewat reuni dan pesan ‘yang di atas bantu yang di bawah’, dia sudah mengunci soliditas 2011 lintas matra tanpa perlu transaksi politik apa-apa. Ini orkestrasi persahabatan yang sangat cantik, sekaligus mengamankan kekuatan tanpa terlihat bermanuver,” ujar Hensa.

Lebih jauh, Hensa menyoroti bagaimana Teddy meminta rekan-rekannya agar tidak memikirkan ambisi jangka panjang menjadi jenderal semata, melainkan fokus membekali diri sejak dini.

Gaya komunikasi yang luwes dari Seskab Teddy tersebut dinilai jauh lebih efektif dibandingkan pendekatan komando formal. Hensa membandingkan langkah Teddy yang natural berlandaskan ikatan emosional persahabatan ini dengan manuver para elite politik sipil yang sering kali berbiaya mahal namun transaksional.

“Politisi kita lagi-lagi harusnya belajar dari cara Teddy merawat jaringan, sangat elegan dan tidak murahan. Dia enggak maksa orang tunduk pakai instrumen kekuasaan, tapi pakai pendekatan dari hati ke hati ala teman seangkatan yang dampaknya justru lebih riil,” ucapnya.

Bagi Hensa, kapasitas Seskab yang diemban Teddy saat ini memang memberikan daya tawar tersendiri saat ia berbicara di hadapan ratusan perwira.

Namun, kemampuannya merangkul matra Darat, Laut, Udara, dan Kepolisian di bawah tema “Kompak, Kuat, dan Berdampak” menunjukkan kedewasaan dan insting berpolitik yang tajam.

“Dia tahu betul, 15 atau 20 tahun lagi lulusan 2011 inilah yang akan pegang kendali negara. Jadi daripada nanti di masa depan pada berebut pengaruh, lebih baik diikat batinnya dari sekarang. Teddy membuktikan bahwa investasi politik terbaik itu bukan lewat uang, tapi lewat solidaritas,” tutup Hensa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *