JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah hingga menembus Rp17.000 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada perdagangan hari ini. Tekanan ini dipicu sentimen negatif di pasar global, termasuk lonjakan harga minyak mentah yang melampaui level psikologis US$100 per barel akibat ketegangan geopolitik.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah dan koreksi tajam IHSG tidak lepas dari sentimen yang muncul setelah sebagian ekonom menyampaikan pandangan bahwa ekonomi Indonesia menuju resesi.
“Rupiah 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang kita sudah resesi menuju 1998 lagi, daya beli sudah hancur,” kata Purbaya usai sidak di Pasar Tanah Abang pada Senin (10/3/2026).
Purbaya menegaskan kondisi ekonomi nasional saat ini tidak seperti yang dikhawatirkan. Ia menyebut aktivitas ekonomi masih berada dalam fase ekspansi. Menurutnya, pemerintah terus berupaya menjaga daya beli masyarakat agar tetap kuat.
Ia juga menilai perekonomian belum menunjukkan tanda perlambatan, apalagi menuju resesi. “Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kita jaga mati-matian. Jangankan krisis, resesi saja belum. Bahkan perlambatan juga belum, kita masih ekspansi dan masih akselerasi,” katanya.
Karena itu, Purbaya meminta pelaku pasar, khususnya investor di pasar saham, tidak perlu terlalu khawatir terhadap kondisi saat ini.
Pemerintah, kata Purbaya, terus menjaga fondasi ekonomi agar tetap kuat. Ia menambahkan Indonesia telah memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi global. Pengalaman tersebut menjadi bekal dalam merumuskan kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi. “Kita sudah tahu penyebab krisis 1998. Pelajaran itu kita terapkan saat krisis global 2008–2009 dan ekonomi kita tetap tumbuh baik. Pada 2020 juga kita jaga dengan kebijakan yang tepat,” ujarnya.
Purbaya menilai pemerintah saat ini memiliki cukup pengalaman dan instrumen kebijakan untuk meredam gejolak yang terjadi di pasar keuangan. “Jadi tidak perlu takut. Kita punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memitigasi gejolak yang ada, tentu dengan langkah-langkah yang diperlukan,” katanya.
Analis mata uang Doo Financial Future, Lukman Leong, mengatakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS, seiring memburuknya sentimen risk off di pasar keuangan global.
Kondisi ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus level psikologis 100 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi perlambatan ekonomi global sekaligus mendorong kembali tekanan inflasi di berbagai negara.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dollar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang melewati 100 dollar AS per barrel dikhawatirkan akan berdampak besar pada perekonomian global dan inflasi,” ujar Lukman.