JAKARTA – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan kekhawatirannya terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah yang dinilai kian mengkhawatirkan.
SBY melihat konfrontasi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir berpotensi besar memicu konflik yang lebih luas dan merusak stabilitas internasional.
Menurut SBY, keterlibatan berbagai pihak dalam aksi saling balas serangan telah mengubah peta konflik secara signifikan di kawasan tersebut.
“Apakah ini bisa meluas? Kalau kita simak what’s going on 3 hari terakhir ini, jawaban saya, bisa. Mungkin sekarang pun sudah mulai meluas, melebar,” kata dia dalam saluran YouTube SBYudhoyono pada Selasa (3/3/2026).
SBY juga menyoroti bagaimana negara-negara Teluk yang sebelumnya bersikap netral kini mulai terseret ke dalam pusaran konflik setelah adanya serangan balasan Iran.
“Ini betul-betul sekarang sudah menjadi regional war yang saya lihat balas membalas,” ujarnya menambahkan.
Risiko Keterlibatan NATO dan Kekuatan Global
Salah satu poin krusial yang menjadi perhatian SBY adalah potensi aktifnya pakta pertahanan internasional jika pangkalan militer negara Barat turut menjadi sasaran.
“Nah ini masuk gak Article 5 dari NATO? Jika ada anggota NATO diserang oleh negara tertentu, maka wajib hukumnya negara anggota NATO juga bareng-bareng bersama Inggris memerangi negara yang menyerang posisi Inggris itu,” tuturnya.
Kekhawatiran SBY memuncak pada kemungkinan intervensi kekuatan besar dunia lainnya yang dapat memperburuk keadaan dan memicu perang global.
“Nah kalau misalnya anggota NATO nimbrung di situ, bagaimana Rusia? Bagaimana Tiongkok? Bagaimana Korea Utara? Ini menurut saya very very dangerous,” tegas SBY.
Ia berharap eskalasi ini dapat segera diredam sebelum titik didih konflik di Timur Tengah berubah menjadi pemicu kehancuran yang lebih masif.
“Mudah-mudahan tidak sampai ke situ karena kalau itu terjadi maka Timur Tengah menjadi flashpoint yang bisa mengarah ke peperangan yang lebih besar.”
“Saya sering mengatakan bisa lho Perang Dunia Ketiga terjadi meskipun sebenarnya bisa dicegah untuk tidak ke situ,” lanjutnya.
Dampak Ekonomi dan Fokus Pengamatan
SBY berkesimpulan bahwa realitas di lapangan saat ini sudah tidak lagi terbatas pada dua pihak yang berseteru sejak awal.
“Jadi kesimpulan pandangan saya, jawaban saya, sekarang sudah meluas. Tidak lagi hanya antara Israel bersama Amerika perang atau bertempur melawan Iran, tetapi yang lain juga nimbrung, sudah melibatkan diri,” jelasnya.
Selain masalah keamanan, gangguan pada rantai pasok dan ekonomi global akibat ketidakstabilan di kawasan tersebut juga menjadi sorotan serius baginya.
“Belum kait-mengaitnya dengan perekonomian yang sudah mengalami disruption di sana sini. Totalitasnya menjadi menurut saya eh masalah yang besar,” ungkap SBY.
Sebagai tokoh yang memiliki latar belakang militer dan diplomasi, SBY mengaku memantau secara intensif perkembangan situasi ini dari berbagai sumber informasi.
“Saya ini rajin mengikuti apa yang terjadi di Timur Tengah. Mungkin seminggu ini saya berhenti melukis karena saya harus lebih nongkrong di depan televisi,” ujarnya.
“Dan saya ikuti berbagai televisi, bukannya satu dua saja, supaya bisa melihat secara lebih utuh, lebih objektif, termasuk komentar dari berbagai pakar, berbagai tokoh di seluruh dunia,” tutup SBY.