Jakarta — Pengamat politik Hendri Satrio menilai pidato Presiden Prabowo Subianto dalam penyampaian Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 mengandung banyak pesan politik yang bersayap.
Menurut Hensa, sapaan akrabnya, dalam komunikasi politik, satu pernyataan dapat memunculkan beragam tafsir, terlebih jika disampaikan dalam forum resmi kenegaraan.
“Dalam politik, satu pesan saja bisa diartikan dalam jutaan persepsi berbeda. Yang harus diperhatikan bukan hanya kata-katanya, tetapi juga mimik, senyuman, nada bicara, serta konteks keseluruhan,” ujar Hensa kepada wartawan.
Ia menyoroti pernyataan Prabowo untuk PDI Perjuangan yang memilih berada di luar pemerintahan. Menurutnya, pernyataan tersebut memiliki makna ganda.
Di satu sisi, Hensa melihat pernyataan Prabowo itu terdengar elegan dan mengakui peran oposisi. Di sisi lain, terdapat kesan sindiran halus terhadap kerasnya kritik yang dilontarkan partai tersebut.
“Apa lagi pak Presiden sempat menyampaikan bahwa kadang “pilu hati” mendengar kritik PDI Perjuangan yang sangat keras dan tajam terhadap program pemerintah. Pesan tersiratnya kurang lebih kan seperti ini, ‘terima kasih sudah mengawasi, tapi jangan terlalu mengganggu jalannya program-program prioritas pemerintahan,’ Walau politisi bilang pujian tersebut tulus dan dari lubuk hati paling dalam, tapi itu pasti bermakna jutaan,” kata Hensa.
Selain itu, ia turut menyoroti bagian pidato yang menyinggung Partai Golkar. Dalam pidato tersebut, Prabowo menceritakan pengalaman birokrasi, termasuk kebiasaan pejabat yang datang pada waktu tidak ideal untuk meminta tanda tangan, menyebut nama Bahlil Lahadalia dan Airlangga Hartarto, hingga mengaku dirinya mantan Golkar.
Menurut Hensa, cerita tentang Golkar itu bukan sekadar momen ringan. Ia menilai pernyataan itu merupakan bentuk pengakuan terhadap pengalaman panjang Golkar dalam pemerintahan.
“Saat Pak Prabowo bercerita soal birokrat yang datang sore hari minta tanda tangan padahal kita sudah capek, lalu dia bilang “banyak dari Golkar yang senyum, berarti pengalamannya banyak,” sambil nyebut nama Bahlil Lahadalia dan Airlangga Hartarto, dan mengaku dirinya juga mantan Golkar, itu bukan sekadar bercandaan ringan, itu cara halus untuk mengakui pengalaman panjang Golkar di birokrasi dan pemerintahan, sekaligus mengingatkan bahwa Golkar adalah partai yang paling ‘paham’ cara kerja mesin pemerintahan,” ujar Hensa.
Secara keseluruhan, Hensa menyimpulkan bahwa pidato Prabowo sarat dengan komunikasi politik berlapis.
Menurut dia, satu kalimat dalam pidato tersebut dapat dimaknai sebagai apresiasi, pengingat, sekaligus sindiran, tergantung pada sudut pandang yang digunakan.
“Intinya, seperti biasa dalam politik, semua ucapan politisi itu bersayap. Satu kalimat sentilan bisa menjadi apresiasi sekaligus pengingat, sekaligus sindiran halus, tergantung siapa yang mendengar dan seberapa dalam ia membaca konteksnya,” pungkas Hensa.