Soal Kenaikan Harga Pertamax, Hendri Satrio: Direksi Pertamina Harusnya Malu, Lagi-lagi Seskab yang Pasang Badan

Pengamat politik Hendri Satrio dalam peluncuran buku ke-3nya berjudul Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo: Komunikasi Politik, Ekonomi, dan Momentum Perubahan di Peralihan Zaman di Jakarta, Rabu (10/6/2026). (dok. Rujakpolitik.com)

JAKARTA – Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio alias Hensa menilai langkah Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang turun tangan menjelaskan kenaikan harga Pertamax melalui Instagram Sekretariat Kabinet justru menjadi tamparan keras bagi Direksi Pertamina.

Pasalnya, kebijakan sepenting itu semestinya dikomunikasikan langsung oleh pimpinan BUMN energi tersebut, tidak harus disampaikan oleh pejabat setingkat Seskab.

“Harusnya Dirut Pertamina malu. Masa kenaikan harga Pertamax yang harus jelasin Seskab? Lama-lama citra Teddy bisa rusak karena selalu pasang badan,” kata Hensa kepada wartawan, Senin (15/6/2026).

Meski begitu, Founder Lembaga Survei KedaiKOPI ini berpendapat bahwa langkah Teddy menyampaikan penjelasan tersebut tetap layak diapresiasi.

Di tengah minimnya respons dari kementerian teknis maupun Pertamina sendiri, Hensa melihat setidaknya ada upaya dari pemerintah untuk berkomunikasi dengan publik, meski ia menilai langkah itu masih jauh dari memadai.

“Apa yang dilakukan Teddy itu meski bagus, tapi itu minimum banget. Dan lagi-lagi Teddy yang pasang badan, kalau diumumkan lewat Instagram saja, menurut saya kurang etis untuk urusan sebesar ini,” tegasnya.

Hensa menekankan bahwa kenaikan harga bahan bakar seperti Pertamax seharusnya dikomunikasikan secara verbal dan langsung kepada masyarakat, lengkap dengan konferensi pers yang menjelaskan alasan serta dampaknya secara rinci.

Sikap diam jajaran direksi Pertamina, kata Hensa, mencerminkan ketidakberanian berkomunikasi dengan rakyat. Padahal, menurutnya, transparansi adalah kewajiban dasar perusahaan pelat merah yang produknya dikonsumsi jutaan orang setiap hari.

“Direksi Pertamina itu takut banget sama rakyat. Harusnya kenaikan Pertamax ini diumumkan secara lisan, ada konferensi persnya, dan dijelaskan secara rinci mengapa harganya naik, apa dampaknya ke masyarakat. Bukan sekadar posting di Instagram,” ujar Hensa.

Hensa menegaskan, ke depan pola komunikasi seperti ini harus diperbaiki. Jika ada kebijakan yang berdampak luas, para pemangku kepentingan utama dalam hal ini Pertamina, harus berani tampil ke depan publik, bukan bersembunyi di balik postingan media sosial dan membiarkan pejabat lain yang menanggung beban komunikasinya.

“Kita berterima kasih atas postingan Mas Seskab. Tapi ini bukan solusi jangka panjang. Lain kali, kalau ada apa-apa, komunikasikan langsung kepada rakyat, secara langsung, lisan, bervisual, dan jelas. Jangan tunggu sampai Seskab yang turun tangan,” pungkas Hensa.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *