DAMASKUS — Jet tempur Israel melancarkan serangkaian gempuran udara yang menargetkan sebuah pangkalan udara di Provinsi Idlib, Suriah.
Aksi militer tersebut menuai kecaman keras dari Turki yang menilai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tengah mengusung kebijakan “ekspansionis”, sementara Amerika Serikat menyayangkan langkah tersebut sebagai “eskalasi yang tidak perlu”.
Stasiun televisi pemerintah Suriah, Ekhbariya, mengutip sumber militer melaporkan bahwa Israel melancarkan delapan gempuran udara yang menyasar landasan pacu serta fasilitas penyimpanan di Pangkalan Abu al-Duhur, dekat Aleppo, di wilayah barat laut Suriah.
Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden tersebut dan gempuran ini menjadi serangan pertama yang dilancarkan Israel terhadap aset pemerintah Suriah sejak Maret lalu.
Kantor Perdana Menteri Netanyahu akhirnya merilis pernyataan resmi pada malam hari. Pihaknya mengklaim gempuran tersebut bertujuan untuk menggagalkan rencana penempatan pasukan Turki di pangkalan udara tersebut.
Dalam pernyataan tertulisnya, Tel Aviv menyebut bahwa Israel dan Suriah sejatinya telah “disepakati status quo dalam masalah keamanan”, tetapi Damaskus dinilai “berada di ambang pelanggaran” terhadap kesepakatan tersebut karena memberi izin penempatan pasukan Turki.
Pihak Tel Aviv mengklaim telah “berulang kali memperingatkan Suriah” terkait risiko tersebut, namun “Suriah memilih untuk mengabaikan peringatan ini.”
Turki Bantah Tudingan, AS Duga Terkait Agenda Politik Internal
Pemerintah Turki dengan tegas menepis klaim Israel dan menyebunya sebagai tuduhan yang “remeh-temeh”.
Dalam pernyataan resminya di platform X, Direktorat Komunikasi Kepresidenan Turki menegaskan bahwa tuduhan tersebut “bertujuan untuk melegitimasi serangan udara ilegal Israel yang menargetkan kedaulatan dan integritas wilayah Suriah”.
Ankara mengaitkan tuduhan palsu tersebut dengan manuver politik Netanyahu yang berupaya melanjutkan “kebijakan ekspansionis dan destabilisasi” di kawasan demi kepentingan Pemilihan Umum di Israel.
Turki menegaskan bakal “secara teguh melanjutkan kerja samanya dengan pemerintah Suriah berlandaskan dasar hukum yang sah” serta “tidak akan pernah membiarkan Suriah didestabilisasi”.
Sementara itu, Utusan Khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, mengonfirmasi bahwa Israel memang berada di balik gempuran di Pangkalan Udara Abu al-Duhur tersebut.
Barrack, yang juga menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Turki, menilai bahwa rentetan gempuran tersebut “merupakan eskalasi yang tidak perlu yang tidak mendukung stabilitas kawasan”.
melalui unggahannya di X, ia mengimbau agar “mendorong semua pihak untuk memprioritaskan wacana yang logis ketimbang insiden militer lebih lanjut.”
Peta Konflik Pasca-Tumbangnya Rezim Assad
Israel tercatat telah melancarkan ratusan gelombang serangan ke wilayah Suriah sejak tumbangnya kekuasaan Bashar al-Assad pada Desember 2024 oleh pasukan yang dipimpin Ahmed al-Sharaa, yang kini menjabat sebagai pemimpin transisi Suriah.
Selain gempuran udara, militer Israel juga melanggar zona penyangga yang diawasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta rutin melakukan penetrasi militer lebih dalam ke wilayah Suriah.
Menanggapi eskalasi yang kian memanas, Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shibani, mendesak penghentian seluruh tindakan agresif.
Ia meminta Tel Aviv menghitung ulang posisinya karena tindakan tersebut tidak hanya berhadapan dengan Damaskus, tetapi juga aliansi strategis di belakangnya.
“Serangan-serangan ini tidak memiliki pembenaran keamanan… Kami akan melanjutkan jalur diplomasi kami untuk meyakinkan Israel agar mundur dari kebijakan ini dan memaksanya untuk menghentikan serangannya terhadap Suriah,” tegas al-Shibani dalam konferensi pers bersama Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, di Damaskus.
Pangkalan Udara Abu al-Duhur sendiri berjarak sekitar 70 kilometer di timur perbatasan Turki. Lapangan terbang militer tersebut sudah tidak beroperasi secara aktif sejak 2013 dan telah berulang kali berpindah penguasaan selama 14 tahun perang saudara di Suriah.