JAKARTA — Hendri Satrio atau Hensa berkelakar setelah istilah “londo ireng” ramai diperbincangkan. Ia mengatakan lebih memilih disebut sebagai komika politik daripada pengamat agar tidak ikut dimasukkan ke dalam kategori tersebut.
“Saya jadi Komika Politik aja, jangan disebut Pengamat lagi, supaya tidak termasuk dalam kategori ‘itu’, setuju ya @pandji @davidnurbianto @FahmiAgustian @NOTASLIMBOY?” tulis Hensa melalui akun X miliknya, @satriohendri.
Pernyataan tersebut merujuk pada pidato Presiden Prabowo Subianto dalam puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa di Jakarta Convention Center, Kamis (23/7/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan pemerintah tidak antikritik. Namun, ia menilai terdapat pihak-pihak di Indonesia yang lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain.
Prabowo kemudian menyebut “londo ireng” masih ada hingga sekarang dengan mengenakan “baju” yang berbeda. Dalam bagian tersebut, ia menyinggung wartawan, jurnalis, pengamat, serta lembaga swadaya masyarakat atau LSM.
“Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain,” ujar Prabowo dalam pidatonya, Kamis.
Hensa mengaku memahami bahwa terdapat unsur kelakar dalam pernyataan Prabowo tersebut. Karena itu, ia memilih menanggapinya dengan gaya serupa, yakni melalui candaan dengan menyebut dirinya sebagai komika politik.
“Saya paham ada unsur bercandanya dalam selorohan Presiden. Makanya saya respons juga dengan bercanda, sekalian saja mengaku sebagai komika politik. Cuma, namanya juga candaan Presiden, tetap saja bisa membuat pengamat seperti saya sedikit deg-degan,” kata Hensa.
Menurut Hensa, respons tersebut tidak dimaksudkan sebagai serangan terhadap Presiden. Ia hanya ingin menyampaikan sentilan ringan mengenai posisi pengamat yang bertugas memantau, mengkritik, dan memberikan penilaian terhadap jalannya pemerintahan.
Dengan meminta tidak lagi disebut pengamat, Hensa menyentil anggapan bahwa suara kritis dapat dengan mudah dicurigai sebagai bentuk keberpihakan kepada kepentingan asing.
“Kalau pengamat yang tugasnya mengamati kemudian dianggap sebagai ‘londo ireng’, ya lebih aman saya menjadi komika politik saja. Kalau melontarkan kritik, nanti bisa dibilang sedang bercanda. Padahal, kritik dan pengawasan itu diperlukan agar pemerintah tetap berjalan pada jalur yang benar,” ujar Hensa.
Di sisi lain, pengamat politik Rocky Gerung turut menanggapi ramainya penggunaan istilah tersebut. Menurut Rocky, makna “londo ireng” yang dipakai dalam perdebatan politik saat ini tidak lagi memiliki sasaran yang jelas.
“Londo Ireng tuh adanya dalam imajinasi. Karena udah berabad-abad orang lupa bahwa dulu orang Afrika disogok oleh Belanda untuk jadi tentara bayaran, sekarang enggak jelas mana tentara bayarannya,” kata Rocky dalam tayangan yang diunggah akun Instagram @hensa.official.
Oleh karena itu, Hensa berharap istilah tersebut tidak digunakan untuk menggeneralisasi seluruh pihak yang memiliki pandangan berbeda dengan pemerintah.
Ia menilai, kritik tidak selalu lahir dari keinginan untuk menjatuhkan pemerintah. Sebaliknya, kritik juga dapat disampaikan karena adanya harapan agar pemerintah bekerja lebih baik dan berhasil memenuhi kepentingan masyarakat.
“Jangan sampai semua yang mengkritik kemudian dicurigai sebagai antek asing atau pembantu penjajah. Bisa saja mereka ingin menyampaikan sesuatu karena ingin pemerintah berhasil. Kalau semua harus diam dan hanya boleh memuji, nanti pengamat politik benar-benar lebih cocok beralih profesi menjadi komika,” pungkas Hensa.