JAKARTA — Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menyoroti maraknya potongan video atau clipper di media sosial yang dibuat untuk menarik perhatian, menambah pengikut, hingga masuk dalam rekomendasi konten atau FYP.

Menurut pria yang akrab disapa Hensa itu, kecenderungan membuat konten singkat tersebut membuat cerita secara utuh kerap terabaikan.

“Jadi biasanya cerita komunikasi yang panjang itu jarang sekali ditampilkan karena ditakutkan akan membuat bosan, kemudian makan kuota, dan lain-lain. Sehingga orang lebih tertarik, lebih suka untuk melaksanakan atau membuat clipper-clipper yang tujuannya untuk menarik perhatian, menambah follower, masuk FYP,” kata Hensa dalam keterangannya.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu mengatakan, pola konsumsi informasi masyarakat saat ini memang semakin mengarah pada konten-konten berdurasi singkat.

Namun, menurut dia, persoalan muncul ketika upaya menarik perhatian melalui potongan video justru membuat konteks suatu peristiwa tidak tersampaikan secara lengkap.

“Tapi yang dilupakan adalah keseluruhan konten dari cerita itu,” ujarnya.

Hensa mengatakan, masyarakat akhirnya berpotensi hanya mendapatkan sebagian dari sebuah cerita apabila mengandalkan potongan video yang beredar di media sosial.

“Terkadang cerita yang kita dapat hanya setengah-setengah karena hanya melihat clipper-clipper yang dibuat untuk menarik perhatian,” kata dia.

Menurut Hensa, kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam mencerna informasi, khususnya di tengah derasnya arus informasi dari media sosial dan berbagai kanal nonkonvensional.

“Di era teknologi komunikasi saat ini, di era media sosial, di era homeless media, memang harus berhati-hati dalam mencerna sebuah cerita. Cerita harus dilihat secara utuh dan jelas,” ujarnya.

Ia mencontohkan ramainya video Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya saat peresmian LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai.

Dalam potongan video yang beredar, Teddy terlihat meminta sejumlah pihak, termasuk jajaran direksi dan pejabat terkait, untuk berpindah tempat.

Menurut Hensa, jika hanya melihat potongan tersebut, cara Teddy memberikan arahan dapat menimbulkan kesan tertentu di tengah masyarakat.

“Nah, salah satu yang terbaru contohnya adalah cerita Seskab Teddy yang ramai diperbincangkan saat peresmian LRT Kelapa Gading-Manggarai. Ia ramai disebut meminta Direktur LRT pindah tempat, namun caranya mungkin tidak enak bagi sebagian masyarakat jika dilihat videonya,” kata Hensa.

Namun, menurut penjelasan yang kemudian disampaikan Seskab Teddy, pengaturan posisi tersebut dilakukan untuk memberikan ruang kepada penyandang disabilitas agar dapat berada lebih dekat dengan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

“Nah, kan ternyata cerita sesungguhnya ada di balik itu, bahwa ada keinginan dari aparat atau pemerintah untuk mendekatkan saudara-saudara kita penyandang disabilitas ke Presiden Prabowo dan Gubernur Pramono Anung supaya para saudara kita yang menyandang disabilitas ini bisa berkomunikasi, berdialog dengan Presiden dan Gubernur,” ujar Hensa.

Menurut dia, konteks itu tidak terlihat secara lengkap dalam potongan video yang lebih dahulu beredar.

“Tapi clipper yang beredar di masyarakat justru yang terlihat hanya bagaimana Seskab Teddy meminta para direksi LRT, Dirjen Kereta Api dan lainnya untuk pindah gerbong tanpa menjelaskan maksud dan tujuannya,” katanya.

Hensa mengatakan fenomena serupa dapat terjadi dalam berbagai peristiwa lain yang beredar di media sosial.

“Hal ini juga sering terjadi di beberapa case clipper-clipper tidak lengkap yang ada di masyarakat,” kata dia.

Karena itu, ia mengajak masyarakat tidak hanya terpaku pada konten singkat yang menarik perhatian, tetapi juga mencari cerita secara lengkap sebelum membentuk kesimpulan.

“Maka mari kita biasakan mendengarkan, melihat, menyaksikan cerita lengkap dibandingkan hanya melihat clipper-clipper saja,” pungkasnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *