Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 mencapai 5,61 persen, angka tertinggi dalam 14 tahun terakhir. Meski demikian, banyak masyarakat, terutama kelas menengah di perkotaan, merasa kondisi tersebut belum sesuai dengan realita kehidupan sehari-hari.

Ketua Komisi XI DPR Misbakhun menjelaskan hal tersebut saat merespons pertanyaan publik mengenai kesenjangan antara data makro dan kondisi riil masyarakat.

Menurutnya, angka pertumbuhan tersebut lahir dari validasi data pertumbuhan ekonomi sektoral yang mencakup berbagai bidang, mulai dari pertanian, pertambangan, transportasi, industri, hingga sektor makanan dan minuman.

“Sektor yang bertumbuh salah satunya adalah pertanian. Pemerintah menerapkan kebijakan sederhana dengan menetapkan harga gabah sekitar Rp6.500 per kilogram, sehingga kontribusi sektor pertanian sangat signifikan,” ujar Misbakhun dalam YouTube Hendri Satrio Official.

Ia menambahkan bahwa keluhan utama justru datang dari masyarakat perkotaan, khususnya kelas menengah yang masih merasakan dampak lanjutan pandemi COVID-19, atau yang disebut scary effect oleh para ekonom. Efek ini masih terasa karena proses restrukturisasi kredit yang dilakukan pemerintah terhadap sektor korporasi, UMKM, dan kredit konsumen belum sepenuhnya pulih.

“Restrukturisasi dilakukan di semua lini, baik korporat, UMKM, maupun konsumer. Namun pemulihan tidak terjadi secara serentak karena bergantung pada sektor masing-masing. Ada sektor yang sempat booming seperti kesehatan, kemudian kembali normal. Sementara sektor lain seperti transportasi dan logistik mulai meningkat,” paparnya.

Misbakhun menekankan bahwa ekonomi bersifat siklikal. Tidak semua sektor dapat tumbuh bersamaan pada periode yang sama. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk memberikan insentif sektoral yang lebih luas, tidak hanya pada pertanian, tetapi juga sektor-sektor lain yang masih menghadapi tekanan.

Salah satu kebijakan yang dinilai positif adalah keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Menurutnya, kebijakan ini akan memberikan efek yang luar biasa pada kuartal II 2025.

“Ini baru Q1. Angka 5,61 persen ini tertinggi sejak 14 tahun lalu. Menteri Keuangan sebelumnya, Pak Purbaya, meski berprestasi, tidak mencapai level ini,” kata Misbakhun.

Ia optimistis target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2025 sebesar 5,2 persen dapat tercapai, bahkan menuju target 5,4 persen pada 2026, seiring dengan pemulihan berbagai sektor dan kebijakan yang tepat dari pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *