JAKARTA – Pengamat politik sekaligus pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio (Hensa), menyentil Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang justru terlihat “mendampingi” Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya saat berkunjung ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Bekasi, Minggu (25/10/2026) malam.
Padahal, menurut Hensa, Sekolah Rakyat adalah program di bawah naungan Kementerian Sosial. Karena itu, ia berpendapat, Mensos semestinya jadi orang yang paling sering kepergok sidak di asrama Sekolah Rakyat, bukan sosok yang muncul di foto sebagai pendamping.
“Sekolah Rakyat itu kan tanggung jawabnya Kemensos. Kok penanggung jawab malah jadi pendamping tamu?,” kata Hensa kepada wartawan.
“Saya jadi iseng mikir, jangan-jangan kalau malam itu Mas Teddy nggak datang, Gus Ipul juga nggak ke sana. Mudah-mudahan saya salah, ya,” lanjut Hensa.
Teddy tiba di SRT 1 Kabupaten Bekasi sekitar pukul 20.50 WIB, bersama Gus Ipul. Ia langsung masuk ke asrama putra jenjang SMA, ikut bernyanyi bersama siswa, lalu menengok kamar tidur mereka.
Padahal, berdasarkan keterangan Sekretariat Kabinet, sore harinya Teddy masih berada di Hambalang, Bogor, mengikuti pertemuan Presiden Prabowo dengan Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI).
“Coba lihat jadwalnya. Sore rapat di Hambalang, malamnya sudah di asrama Sekolah Rakyat ngecek kamar anak-anak. Hari Minggu pula,” lanjut Hensa.
Menurut Hensa, kunjungan seperti itu sulit dibaca sebagai acara seremonial semata.
“Malam-malam begitu, di asrama, mana ada panggungnya? Itu cara orang yang mau tahu sendiri program Pak Prabowo jalan atau nggak. Dia nggak puas cuma baca laporan,” ujarnya.
Hensa menilai kunjungan itu memperlihatkan peran Teddy yang jarang dibahas publik, yakni mengecek langsung apakah program Presiden benar-benar berjalan di lapangan.
“Publik jadi tahu, ternyata yang bantu Presiden memantau program-programnya di lapangan itu Mas Teddy. Datang mendadak, cek kamar, ngobrol sama anak-anak, baru pulang,” kata Hensa.
Hensa juga mengingatkan, kontrol atas program Presiden tidak boleh bergantung pada kunjungan pejabat Istana.
“Jangan sampai kementerian baru gerak kalau Seskab sudah datang. Kalau begitu, artinya pengawasan internalnya nggak jalan. Sekolah Rakyat ada di banyak kabupaten dan kota, masa semuanya harus nunggu didatangi dulu?,” kata Hensa.
Soal tata kelola, Hensa meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) lebih kelihatan ikut mengurus Sekolah Rakyat.
Hensa juga meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ikut turun ke lapangan.
Selama ini, Kemendikdasmen kebagian menyiapkan kurikulum dan guru Sekolah Rakyat, sementara pengelolaan sekolah dan asramanya di tangan Kemensos.
“Kurikulum dan gurunya memang dari Kemendikdasmen, itu sudah jalan. Tapi kirim kurikulum dan guru baru separuh pekerjaan. Yang perlu dicek juga anak-anaknya makin pintar atau nggak. Kalau Seskab saja bisa datang ngecek kamar, Kemendikdasmen mestinya rajin ngecek kelasnya,” pungkas Hensa.(*)