JAKARTA – Unggahan pengamat politik Hendri Satrio atau Hensa mengenai kebijakan sebuah kedai kopi di kawasan Jakarta yang tidak menerima pembayaran tunai memicu beragam tanggapan dari warganet.
Melalui akun X miliknya @satriohendri, Hensa mengungkapkan bahwa kedai kopi Smiljan Makarya di Gramedia Matraman tidak menerima pembayaran menggunakan uang tunai. Ia juga meminta agar kebijakan tersebut tidak ditiru oleh toko lain.
“Bahkan tempat ngopi Smiljan Makarya di toko buku Gramedia Matraman tidak mau terima tunai/cash. Mohon kebijakan tidak terima tunai/cash tidak ditiru toko lainnya,” tulis Hensa.

Dalam unggahan yang sama, Hensa turut membuat jajak pendapat dengan pertanyaan, “Tindakan tidak terima tunai termasuk tindakan…”
Hasil polling yang diikuti 282 akun menunjukkan mayoritas responden, yakni 64 persen, menilai kebijakan tersebut menyulitkan para pembeli. Sementara 18 persen menyebutnya sebagai bentuk “pembangkangan”, 10 persen menganggapnya sebagai “pemberontakan”, dan 9 persen menilai kebijakan itu mencerminkan “no trust ke karyawan”.
Di kolom komentar, sejumlah warganet juga menyampaikan kritik terhadap kebijakan pembayaran non-tunai tersebut.Akun @FayOshman_99 mempertanyakan apakah uang rupiah masih berlaku apabila pembayaran tunai ditolak.
“Itu tempat masih di Indonesia kan Bg Hensa??? Apa jangan-jangan uang rupiah sudah tidak laku di negaranya sendiri bg???,” tulis akun @FayOshman_99 tersebut.
Komentar senada disampaikan akun @AlasBanjaran yang menilai uang tunai masih merupakan alat pembayaran yang sah di Indonesia.”Pembangkangan terhadap negara, karena uang tunai masih jadi alat pembayaran yang sah.” ujarnya.Sementara itu, akun @xpejuangsepi menilai penolakan terhadap pembayaran tunai menunjukkan keberpihakan kepada sistem pembayaran non-tunai.”Sebenarnya ada jawaban yg lebih tepat bang @satriohendri, dengan tidak menerima uang tunai, berarti mereka adalah antek-antek asing,” kata akun @xpejuangsepi.
Adapun akun @Susmono41865447 menyoroti dampak praktis kebijakan tersebut bagi konsumen, terutama ketika mengalami kendala jaringan internet.
“Nyusahin pembeli, kalo di daerah kadang sinyal HP muter-muter gak karuan padahal kuota banyak. Repot kuadrat,” tulis akun tersebut.
Unggahan Hensa tersebut menjadi sorotan di media sosial karena menyinggung perdebatan mengenai penggunaan uang tunai di tengah semakin luasnya penerapan sistem pembayaran digital.
“Mohon pemerintah juga sebaiknya menjelaskan kebijakan yang pas kalau uang tunai itu masih sah dan wajib digunakan oleh toko-toko, tidak boleh ditolak,” pungkasnya.(*)