JAKARTA – Politisi Partai Gerindra yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko menceritakan bahwa ekonom Sumitro Djojohadikusumo memiliki penyesalan mendalam semasa hidupnya.
Hal ini diceritakan Budiman saat peluncuran buku terbaru karya analis komunikasi politik Hendri Satrio berjudul “Estafet Ideologi: Sumitro ke Prabowo” yang digelar di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Budiman menceritakan, kisah ini ia dengar pada saat ia baru-baru bergabung dengan Partai Gerindra setelah ia keluar dari PDI Perjuangan dan mendukung Prabowo Subianto menjadi presiden 2024 silam.
Kisah tersebut, kata Budiman, diceritakan oleh adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo yang kini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra.
“Saya ingat pada waktu saya baru bergabung dengan Pak Prabowo, Pak Hashim pernah bercerita pada saya, ‘Pak Budiman, dalam Sakaratul Mautnya, Pak Sumitro, ditanya oleh saya dan Pak Prabowo soal apa hal yang paling Papi sesali selama hidup? Ketika beliau menjelang wafat Pak Sumitro, apa yang Papi paling sesali selama hidup?,’ Itu pertanyaan Pak Hasim dan Pak Prabowo pada Pak Sumitro,” cerita Budiman.
“(Kata Sumitro) ‘Saya pernah meninggalkan Bung Karno’, hal yang paling sesali oleh Papi saya, Pak Budiman, adalah Saya meninggalkan Bung Karno. ‘Itu yang paling saya sesali dalam hidup’,” lanjutnya.
Kisah ini, menurut Budiman, menjadi benang merah yang emosional dan sangat relevan dengan narasi yang ada di dalam buku Hensa tersebut, yang juga menyinggung terkait hubungan Sumitro dengan Soekarno.
Budiman berpendapat, kisah tersebut memperlihatkan bahwa di balik perbedaan pandangan geopolitik yang tajam antara Sumitro dan Soekarno di masa lalu, pada akhirnya terdapat pengakuan dan penyesalan mendalam dari Sumitro karena pernah meninggalkan sang proklamator tersebut.
Di sisi lain, Budiman Sudjatmiko dalam tanggapannya juga meluruskan pandangan publik yang kerap heran mengapa dua tokoh yang sama-sama berasal dari tradisi pemikiran sosialisme bisa saling berseberangan.
Ia menegaskan bahwa akar konflik di antara keduanya bukanlah terletak pada substansi ajaran ekonomi, melainkan karena perbedaan cara pandang mengenai geopolitik dan tahapan sejarah.
“Pak Hendri juga menyinggung soal Soekarno dalam bukunya dan pertentangannya. Mungkin banyak orang heran, kenapa Bung Karno yang juga lahir dari tradisi sosialisme, harus pada suatu masa bertentangan dengan Pak Sumitro yang lahir dari tradisi sosialisme? Apakah se-bertentangan itu dan kira-kira juga kalau memang bertentangan, faktor apa?,” ungkap Budiman.
“Ternyata, akar pertentangan mereka bukanlah soal substansi ajaran ekonomi, melainkan karena perbedaan cara pandang yang tajam terhadap geopolitik dan tahapan sejarah,” ujar Budiman.
Soal buku Hensa, Budiman memaknai tema “estafet ideologi” sebagai prinsip fundamental bagi Prabowo Subianto tentang pentingnya melakukan hal yang benar.
Ia menekankan bahwa panduan ideologis ini sangat krusial agar setiap keyakinan yang benar dapat selalu dieksekusi dengan cara yang tepat pula.
“Tema estafet ideologi ini menarik karena ideologi pada dasarnya adalah tentang doing right things atau melakukan suatu hal yang benar. Poin utamanya adalah bagaimana Pak Prabowo bisa meyakini bahwa apa yang beliau lakukan adalah hal yang benar, sehingga kebenaran tersebut juga dieksekusi dengan cara yang benar,” ujar Budiman.