Pakistan secara resmi menyatakan “perang terbuka” terhadap pemerintahan Taliban di Afghanistan pada Jumat (27/2/2026), menyusul rentetan serangan balas-menyerang lintas perbatasan yang semakin memanas.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengumumkan hal itu setelah Pakistan melancarkan operasi militer bertajuk Ghazab Lil Haq, yang menargetkan sejumlah lokasi strategis milik Taliban, termasuk di ibu kota Kabul, Kandahar, dan Paktia.
“Kesabaran kami telah mencapai batasnya. Sekarang adalah perang terbuka antara kami dan kalian,” tulis Khawaja Asif melalui akun media sosial X.
Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar menegaskan bahwa serangan itu difokuskan pada fasilitas pertahanan Taliban. “Target pertahanan Taliban Afghanistan diserang di Kabul, Paktia, dan Kandahar,” ujar Tarar.
Menurut klaim pihak Pakistan, operasi ini dipicu oleh tembakan tanpa provokasi dari wilayah Afghanistan. Stasiun televisi PTV News melaporkan bahwa dua markas brigade di Kabul dan satu markas korps di Kandahar berhasil dihancurkan, sementara depot amunisi serta basis logistik di Kandahar juga rata dengan tanah.
Juru bicara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Mosharraf Ali Zaidi, mengklaim 133 milisi Taliban tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka.
Di pihak Afghanistan, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengonfirmasi adanya serangan di Kabul, Kandahar, dan Paktia. Pejabat informasi Provinsi Nangarhar, Qureshi Badlun, melaporkan serangan mortir menghantam kamp pengungsi dekat perbatasan Torkham, menyebabkan tujuh pengungsi terluka, dengan satu wanita dalam kondisi kritis. Kementerian pertahanan Afghanistan menyebut total 13 warga sipil terluka.
Afghanistan juga mengklaim telah menewaskan 55 tentara Pakistan dan merebut lebih dari selusin pos militer dalam serangan balasannya.
Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi mengecam Taliban atas serangan terhadap warga sipil. “Musuh pengecut menyerang dalam kegelapan malam. Taliban Afghanistan melakukan upaya tercela untuk menargetkan warga sipil yang tidak bersalah,” tegasnya.
Eskalasi ini berawal dari serangan udara Pakistan pada Minggu (22/2/2026) yang menargetkan kelompok milisi di wilayah perbatasan, diikuti balasan Afghanistan pada Kamis (26/2/2026) malam terhadap pos-pos perbatasan Pakistan. Kementerian Pertahanan Afghanistan menyebut serangan Pakistan sebagai pelanggaran kedaulatan wilayah udara mereka.
Hubungan kedua negara tetangga ini memang semakin memburuk belakangan, dengan Pakistan menuduh Taliban melindungi Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) yang kerap menyerang wilayah Pakistan—tuduhan yang dibantah keras oleh Taliban.
Meski sempat disepakati gencatan senjata yang dimediasi Qatar, rentetan serangan terbaru menunjukkan kesepakatan itu semakin rapuh.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, mendesak kedua pihak menahan diri dan menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi demi melindungi warga sipil.
Hingga kini, laporan korban dan kerusakan masih simpang siur karena perbedaan klaim dari masing-masing pihak.