JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengungkapkan, kegiatan belajar mengajar di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah pulih sepenuhnya atau mencapai 100 persen.
Pernyataan itu disampaikan Abdul Mu’ti saat konferensi pers Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatra, di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
“Kegiatan pembelajaran sudah berlangsung 100 persen,” jelas Abdul dalam konferensi pers, Rabu.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat, total 3.072 sekolah di ketiga provinsi tersebut terdampak banjir dan tanah longsor. Rinciannya, 3.073 sekolah di Aceh, 622 sekolah di Sumatera Barat, serta 1.168 sekolah di Sumatera Utara. Namun, angka tersebut tampaknya mengandung sedikit ketidaksesuaian data internal yang tidak dijelaskan lebih lanjut.
Hingga 26 Januari 2026, masih ada 129 sekolah yang terpaksa menggelar kegiatan belajar di tenda darurat. Jumlah itu kemudian menurun drastis menjadi 99 sekolah per 11 Februari 2026, dengan rincian 52 sekolah di Aceh, 21 sekolah di Sumatera Utara, dan 26 sekolah di Sumatera Barat.
“Kami sampaikan informasi bahwa belajar di tenda, atau kelas darurat, per 26 Januari 2026 tercatat sebanyak 129 sekolah. Namun, saat ini tersisa 99 (sekolah),” ujar Abdul.
Penurunan signifikan itu terjadi berkat upaya pemerintah yang mempercepat pembersihan sekolah-sekolah terdampak. Akibatnya, banyak sekolah yang sebelumnya hanya bisa belajar di tenda kini sudah kembali menggunakan gedung sendiri.
Selain itu, jumlah sekolah yang masih harus menumpang di bangunan sekolah lain juga berkurang. Per 11 Februari 2026, hanya tersisa 22 sekolah dalam kondisi tersebut, turun dari 27 sekolah per 26 Januari 2026.
“Saat ini memang tersisa 22 sekolah karena proses pembersihan (sekolah) sudah selesai,” jelas Abdul.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyatakan, sebagian besar wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah memasuki fase pemulihan.
Bencana yang melanda sejak akhir November 2025 itu memengaruhi setidaknya 52 kabupaten/kota di ketiga provinsi tersebut.
“Sementara yang lainnya, baik di Sumatra Barat maupun di Sumatera Utara, semuanya sudah masuk dalam fase transisi darurat ke pemulihan,” ujar Suharyanto.
Hingga kini, hanya dua kabupaten di Aceh yang masih mempertahankan status tanggap darurat, yaitu Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Tamiang.
“Dari 52 kabupaten kota terdampak di Sumatera, tinggal dua kabupaten yang menetapkan atau melanjutkan status tanggap darurat, yaitu Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Tamiang,” ujar Suharyanto.