JAKARTA – Pengamat politik sekaligus pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio, memenuhi panggilan Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) terkait pemeriksaan perpajakan ekonom Ferry Latuhihin.

Melalui perbincangan di kanal YouTube Forum Keadilan TV, pria yang akrab disapa Hensa ini secara terbuka menyampaikan pujian dan apresiasi tinggi terhadap kinerja serta profesionalisme para petugas pajak.

Ia menegaskan bahwa keputusannya untuk hadir memenuhi panggilan adalah langkah yang paling tepat. Hensa mengaku terkesan dengan integritas petugas yang bekerja murni berdasarkan tugas, tanpa terpengaruh oleh berbagai opini publik yang sedang berhembus.

“Saya kagum sama petugas Dirjen Pajak itu kemarin. Jadi dia tidak melebar kemana-mana. Sangat profesional. Fokus apa yang memang dicari. Terlepas dari berbagai kontroversi atau polemik yang mengatakan ini enggak pantas cuma untuk Ferry Latuhihin. Sama sekali petugas pajaknya nggak bicara seperti itu. Dia melakukan tugasnya aja,” ujar Hensa.

Lebih lanjut, Hensa memaparkan bahwa proses klarifikasi berjalan sangat efisien. Pihak pemeriksa sama sekali tidak mempersulit dan hanya mengajukan pertanyaan yang berpusat pada pokok persoalan seputar podcast miliknya.

“Dan ternyata keputusan saya datang dan hadir itu benar. Satu, petugas pajaknya waktu itu sangat profesional. Dia tidak mempersulit bertanya sesuai dengan konteks substansi. Dan setelah itu selesai. Yang ditanya sebenarnya pertanyaannya satu aja. ‘Mas Hensa ngundang Prof. Ferry Latuhihin dikasih apa? Prof. Ferry itu dikasih apa? Dikasih honor, ya?'” tuturnya.

Merespons pertanyaan tersebut, Hensa membeberkan secara transparan bentuk apresiasi yang ia berikan kepada setiap narasumber di podcast-nya. Ia memastikan pemberian tersebut bukan berupa uang tunai, melainkan sekadar kue (cookies) atau buah-buahan.

“Saya jawab dua. Satu, saya nggak pernah ngasih uang (ke Ferry). Karena keterbatasan, namanya kan saya dosen. Keterbatasan kita. Jadi kita kasih dia, semua narsum saya itu pilihannya cuma dua, buah atau cookies. Saya ingat saya waktu itu, Prof. Ferry saya kasih cookies,” jelas Hensa.

Ia juga menambahkan detail terkait kisaran nilai dari buah tangan tersebut. Pemberian cookies itu dinilainya sebagai bentuk kepantasan untuk figur sekelas Latuhihin, yang dibedakan dari narasumber kelas bawah agar tidak timbul salah paham.

“Enggak, kan itu paling 150 ribu ya. 125 ribu, 150 ribu lah. Kecuali ini kalau saya lagi wawancara UMKM, nah itu pasti saya kasih sembako tuh UMKM-nya. Nah tapi kalau level-levelnya Latuhihin itu kan, kalau gue kasih sembako marah dia, ‘lo kurang ajar,’ gitu-gitu kan. Iya, makanya kita kasih yang pantas aja. Dan itu semuanya begitu,” ungkapnya.

Sikap kooperatif yang ditunjukkan Hensa menggarisbawahi kepercayaannya terhadap otoritas negara.

Baginya, pemanggilan ini merupakan rutinitas institusi yang patut dihormati dan tidak perlu dijadikan beban selama tidak ada hal yang disembunyikan.

“Nah itu yang saya hindari, makanya saya datang. Tugas pajaknya juga hanya menjalankan kewajiban, kita datang aja,” pungkasnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *