JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan mobil menjadi salah satu indikator yang memperlihatkan permintaan dan daya beli di pasar dalam negeri masih terjaga dengan baik.
Saat menghadiri Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Tangerang, Banten, Selasa, Menkeu menyebutkan penjualan mobil naik 32,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026. Sementara itu, penjualan sepeda motor hanya tumbuh 1,1 persen (yoy).
“Kami memonitor setiap variabel yang menunjukkan kondisi ekonomi saat ini maupun ke depan dan bertindak secara cepat untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terpengaruh oleh perkembangan negatif di pasar,” ujar Purbaya.
Selain data penjualan kendaraan bermotor, Menkeu juga menunjuk sejumlah indikator aktivitas ekonomi domestik lain yang menunjukkan penguatan. Penjualan semen domestik pada Juni 2026 tumbuh 13,5 persen (yoy), konsumsi listrik naik 10,8 persen (yoy), dengan rincian pertumbuhan sektor rumah tangga 12,3 persen, sektor bisnis 10,0 persen, dan sektor industri 6,5 persen.
Indeks konsumsi ritel pun terus meningkat hingga mencapai 123,3. Angka ini dinilai mencerminkan aktivitas ekonomi masyarakat yang tetap berjalan baik.
Menurut Purbaya, berbagai indikator tersebut menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia masih kuat.
“Pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan melalui kebijakan fiskal yang responsif sehingga permintaan domestik tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya menambahkan.
Menkeu juga menekankan peran penting industri otomotif sebagai salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Industri ini tidak hanya mendorong konsumsi masyarakat, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi sektor manufaktur, investasi, dan penyerapan tenaga kerja.
Oleh sebab itu, ia menggarisbawahi perlunya sinergi antara regulasi pemerintah dan kesiapan pelaku industri di bawah naungan Gaikindo guna memperkuat daya saing industri otomotif nasional. Kolaborasi tersebut dianggap menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan industri sekaligus mempercepat transformasi menuju kendaraan berteknologi rendah emisi.
“Tantangan ke depan bukan lagi hanya mendorong adopsi kendaraan listrik, tetapi juga memaksimalkan nilai tambah domestik, investasi, penciptaan lapangan kerja, serta memperkuat daya saing industri nasional,” tuturnya.