JAKARTA – Komika Pandji Pragiwaksono menilai pergantian presiden belum tentu menyelesaikan berbagai persoalan di Indonesia. Sebab, menurutnya, masalah negara tidak dapat disederhanakan hanya sebagai kesalahan orang yang sedang menjabat sebagai presiden.
Dalam Podcast YouTube Hendri Satrio Official, ia mengingatkan kalau Indonesia telah beberapa kali mengalami pergantian presiden. Namun, setiap pemerintahan tetap menghadapi kritik dan persoalannya masing-masing.
“Presiden berganti, kayaknya masalah gak tambah surut. Jadi ketika kita bilang kita ganti presiden, seakan-akan itu akan mengubah semuanya, kayaknya gak juga,” kata Pandji dalam wawancara bersama Hendri Satrio.
Menurut Pandji, menyalahkan Presiden Prabowo Subianto secara tunggal merupakan cara pandang yang terlalu sederhana. Ia mempertanyakan sejauh mana kekuasaan berada di tangan presiden dan seberapa besar pengaruh para pimpinan partai politik.
“Kalau kita salahkan murni kepada Pak Prabowo, simplistik menurut gue. Kita tuh gak pernah benar-benar tahu, sebenarnya penguasanya politik nih apakah presiden, ataukah sebuah konsorsium dari para pimpinan partai?” ujarnya.
Ketidakpahaman terhadap struktur kekuasaan tersebut, kata Pandji, membuat pergantian presiden berpotensi tidak menghasilkan perubahan seperti yang diharapkan masyarakat.
“Kalau Prabowo diturunkan, tapi kemudian konsorsium politiknya ini tidak kita sadari keberadaannya, jangan-jangan kita gak akan mengubah keadaan,” kata Pandji.
Ia juga menyoroti proses pencalonan dalam sistem politik Indonesia. Menurut Pandji, masyarakat hanya dapat memilih calon-calon yang sebelumnya telah ditentukan oleh partai atau elite politik.
“Kita kan selalu diiming-imingi bahwa demokrasi, lu bisa memilih pemimpin lu sendiri. Tapi sebenarnya kan gak juga. Kita memilih pemimpin yang udah dipilihin, sebenarnya,” tuturnya.
Selain membahas pemimpin dan sistem politik, Pandji mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap tugas politik selesai setelah memberikan suara dalam pemilihan umum.
“Banyak orang berpikir ketika dia sudah memilih, selesai pekerjaannya. Padahal ada tanggung jawab kita juga dalam pengawasan, dalam mengkritik,” ujarnya.
Pandji juga menolak pandangan yang menempatkan oposisi sebagai sesuatu yang selalu negatif. Menurut dia, oposisi dibutuhkan agar proses pengawasan dan koreksi terhadap pemerintah tetap berjalan.
“Sekarang kan ada anggapan oposisi itu buruk. ‘Kalau mau, kita semua kekeluargaan aja,’ gitu. Padahal oposisi kan cara kita mengontrol, cara kita menegur, dan baik sebenarnya,” kata Pandji.
Ia menambahkan, setiap warga berhak mengkritik presiden, terlepas dari pilihan politiknya dalam pemilu. Kritik tersebut merupakan bagian dari pengawasan masyarakat terhadap pemerintah.
“Gue mah milih gak milih, golput gak golput, presiden gue mah wajar aja untuk gue kritik. Orang duit pajak gue dia yang kelola,” ujar Pandji.(*)