JAKARTA – Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengaku tidak gentar menghadapi sentimen publik sepanjang karier politiknya yang berlangsung puluhan tahun. Termasuk saat upayanya demi kesejahteraan Malaysia justru membuatnya dicap sebagai diktator.
Dalam sebuah film dokumenter berjudul My Name is Mahathir yang mengulas perjalanan profesional hingga kehidupan rumah tangganya, Mahathir menceritakan kisah panjang kariernya hingga mencapai posisi politik tertinggi di Malaysia.
“Saya selalu ditanya apa warisan saya. Saya tidak peduli tentang itu. Mereka mungkin mengidentifikasi saya sebagai diktator, itu hak mereka,” kata pria berusia 100 tahun itu dalam film tersebut, dikutip dari SCMP, Kamis (14/5/2026).
“Sejak awal, saya memutuskan bahwa saya tidak peduli apa yang orang pikirkan tentang saya selama saya melakukan hal yang benar,” tambahnya.
Mahathir dikenal sebagai tokoh yang mengubah Malaysia dari negara berbasis pertanian menjadi kekuatan manufaktur. Namun ia mengakui memberantas korupsi sepenuhnya adalah hal yang mustahil. Pengakuan itu menjadi salah satu pemicu ketegangan dengan wakilnya saat itu, Anwar Ibrahim, pada 1990-an yang berujung pada pemecatan Anwar.
“Dia mulai mengatakan kepada orang-orang bahwa saya adalah seorang diktator, saya korup, dan saya melakukan praktik kronisme dan sebagainya,” kata Mahathir dalam wawancara tersebut.
“Sangat sulit untuk memberantas korupsi sepenuhnya. Meskipun ada korupsi, skalanya sangat kecil. Karena itu, negara ini bisa terus berkembang. Saya sendiri tidak akan melakukan korupsi,” tegasnya.
Mahathir juga menyinggung penyelidikan korupsi yang dilakukan Anwar setelah menjadi perdana menteri pada 2022. “Sekarang dia bilang saya telah mencuri uang. Tapi ketika saya meminta bukti, dia tidak bisa memberikannya,” ujar Mahathir.
Para kritikus menilai Anwar menggunakan lembaga anti-korupsi untuk balas dendam politik terhadap Mahathir dan keluarganya.
Film dokumenter berdurasi 65 menit itu baru-baru ini memenangkan medali perak untuk kategori dokumenter di sebuah festival media di Jerman. Produser eksekutif Chan Tau Chou memuji energi Mahathir yang tinggi selama proses pembuatan film serta gaya bicaranya yang lugas dan humornya yang cerdas.
Film ini juga menampilkan wawancara dengan Anwar, putri Mahathir Nurul Izzah, aktivis Kua Kia Soong, serta Tian Chua yang pernah ditahan berdasarkan Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri.