BEIJING — Presiden China Xi Jinping menerima kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Balai Besar Rakyat, Beijing, Kamis (14/5/2026).
Trump tiba sekitar pukul 10.00 waktu setempat dan disambut langsung oleh Xi di halaman Gerbang Timur Balai Besar Rakyat.
Setelah keduanya berjabat tangan, Xi dan Trump saling memperkenalkan delegasi masing-masing sebelum mengikuti rangkaian upacara kenegaraan.
Dalam penyambutan tersebut, lagu kebangsaan China dan Amerika Serikat dimainkan oleh kelompok musik militer. Upacara juga diiringi tembakan salvo sebanyak 21 kali di Lapangan Tiananmen.
Xi dan Trump kemudian meninjau barisan kehormatan Tentara Pembebasan Rakyat serta menyaksikan parade militer. Di akhir barisan, keduanya disambut anak-anak yang membawa bunga dan bendera China serta Amerika Serikat sambil meneriakkan “Selamat datang” dalam bahasa Mandarin.
Setelah upacara penyambutan, kedua pemimpin melanjutkan pertemuan bilateral di dalam Balai Besar Rakyat. Pembicaraan tersebut menjadi sorotan karena berlangsung di tengah dinamika hubungan AS-China dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun sebelumnya menyebut diplomasi di tingkat kepala negara memiliki peran penting dalam memberi arah strategis hubungan kedua negara.
“Kami menyambut kunjungan kenegaraan Presiden Trump ke China. Selama kunjungan tersebut, kedua kepala negara akan melakukan pertukaran pandangan mendalam tentang isu-isu utama yang menyangkut hubungan China-AS dan perdamaian serta pembangunan dunia,” kata Guo Jiakun pada Rabu (13/5).
Dalam pertemuan itu, Xi dan Trump dilaporkan menyepakati pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.
Jalur tersebut dinilai krusial bagi kelancaran arus energi global, terutama di tengah perang Iran dan ketegangan di kawasan Teluk.
Gedung Putih menyebut Xi menolak militerisasi Selat Hormuz maupun rencana penerapan biaya terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut.
China juga disebut membuka peluang untuk meningkatkan pembelian minyak dari Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.
Selain isu energi, kedua pemimpin juga membahas Iran. Xi dan Trump disebut sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Pembicaraan kedua negara turut mencakup kerja sama ekonomi, termasuk akses pasar bagi perusahaan Amerika di China, investasi China di sektor industri AS, penghentian aliran prekursor fentanyl ke Amerika Serikat, serta peningkatan pembelian produk pertanian Amerika oleh China.
Meski demikian, isu Taiwan tetap menjadi salah satu titik sensitif dalam hubungan kedua negara. Media pemerintah China, Xinhua, melaporkan Xi mengingatkan bahwa hubungan China-AS dapat mengarah pada bentrokan atau konflik apabila persoalan Taiwan tidak ditangani dengan tepat.
China dan Amerika Serikat pada akhirnya menyatakan komitmen untuk membangun hubungan bilateral yang stabil dan konstruktif sebagai panduan hubungan strategis dalam beberapa tahun ke depan.
Sumber: ANTARA